ZIGI – Pasar kripto tengah dilanda awan mendung. Beberapa mata uang kripto seperti Bitcoin, Ethereum, Solana, dll, kini tengah mengalami penurunan yang sangat tajam.
Terbaru, perusahaan lindung nilai kripto asal Singapura, Three Arrows Capital dinyatakan default, karena gagal melunasi pinjamannya kepada broker kripto, Voyager Digital.
Lalu seperti apa kondisi perusahaan milik Davies dan Zhu ini? Berikut beritanya.
Baca Juga: 15 Istilah Cryptocurrency yang Perlu Diketahui, Apa itu Bitcoin?
Three Arrows Capital Gagal Bayar Rp 9 Triliun
Broker kripto Voyager Digital menyebut pihaknya telah mengeluarkan pemberitahuan default bagi perusahaan lindung nilai atau hedge fund asal Singapura Three Arrows Capital. Bandar kripto asal Singapura ini dinyatakan gagal bayar senilai US$ 675 juta atau setara dengan Rp 9,8 trilliun.
Angka ini didasarkan pada harga Bitcoin pada Senin, 27 Juni 2022.
Melansir Bloomberg, Three Arrows Capital dinyatakan gagal melakukan pembayaran terhadap pinjaman kepada Voyager, yang berjumlah 15.250 keping Bitcoin dan juga USDC stablecoin setara dengan US$ 350 juta (Rp 5,1 triliun).
TAC kini tengah menyusun proposal hukum untuk menyelesaikan masalah tersebut, dan telah menyewa jasa Moelis & Company sebagai penasehat keuangan selama proses berlangsung.
Perusahaan broker kripto yang berbasis di New York, Amerika, Voyager menjadi salah satu perusahaan yang menawarkan pinjaman dalam bentuk mata uang kripto kepada Three Arrows Capital. Masalah yang dihadapi Three Arrows Capital pun turut mempengaruhi kinerja dari Voyager Digital.
Pada awal bulan Juni ini, Voyager telah mendapatkan pinjaman kredit dari lembaga investasi Alamada Research LLC. Lembaga yang didirikan Sam Bankman-Fried ini pun tengah khawatir dengan nasib Three Arrows dan pasar kripto yang kini tengah dihantam badai ekonomi.
Voyager juga menyebut pihaknya telah mendapatkan akses kredit senilai US$75 juta (Rp 1,1 triliun) dari Alameda. Perusahaan berencana menggunakan dana ini untuk membantu operasional, khususnya memfasilitasi pemesanan dan penarikan kripto yang dilakukan oleh para pelanggan Voyager.
“Kami bekerja dengan rajin dan cepat untuk memperkuat neraca kami dan menjalankan berbagai opsi sehingga kami dapat terus memenuhi permintaan likuiditas pelanggan,” sebut Stephen Ehrlich, CEO Voyager, dikutip Zigi.id dari Bloomberg pada Selasa, 28 Juni 2022.
Sebagai informasi, nilai saham Voyager yang dicatat di Bursa Efek Toronto, Kanada telah turun hingga 95 persen di tahun ini. Hingga kini, penasehat hukum Three Arrows, Solitaire LLP, belum memberikan keterangan resmi terkait permasalahan tersebut.
Profil Three Arrows Capital
Three Arrows Capital atau umum dikenal sebagai 3AC adalah hedge fund mata uang kripto yang berbasis di Singapura. Perusahaan ini didirikan pada tahun 2012 oleh Kyle Davies dan Su Zhu. Davies dan Zhu pertama kali bertemu di Phillips Academy, saat keduanya kuliah di Columbia University, sembari bekerja di Credit Suisse.
Dalam keterangan resmi terakhir, perusahaan menyebut memiliki nilai aset hingga US$ 18 miliar (Rp 267 triliun).
Melansir Bloomberg, Zhu dan Davies dianggap sebagai salah satu pemegang kripto terbesar di dunia. Menurut perusahaan analitik blockchain, Nansen pada Maret 2022, Three Arrows diperkirakan mengelola aset mata uang kripto sekitar $ 10 miliar (Rp 187 triliun).
Pasar kripto kini tengah bergejolak, dengan menurunnya minat para investor berinvestasi di sektor ini. Sebagai aset, kripto memang memiliki volatilitas tinggi, karena harganya sangat tergantung pada hukum permintaan dan penawaran.
Baca Juga: Bill Gates Sebut Kripto dan NFT Didasarkan pada Teori Kebodohan