ZIGI – LOONA mendadak jadi perbincangan di media sosial setelah merilis video trailer ketiga untuk comeback terbarunya dengan title track berjudul PTT (Paint the Town) di YouTube pada Kamis, 24 Juni 2021.

Banyak fans India yang merasa jika LOONA meramas budaya negaranya karena hiasan kepala yang mereka gunakan. Seperti apa perdebatan soal LOONA tersebut? Scroll artikel berikut yuk!

Video Trailer LOONA Jadi Perdebatan

LOONA siap comeback lewat mini album keempat bertajuk '&' dengan title track PTT (Paint the Town) pada 28 Juni 2021. Jelang comeback, LOONA juga merilis video trailer untuk video klip (MV) barunya.

Tapi teaser ketiga berjudul '&3' yang mereka bagikan di YouTube pada 24 Juni 2021, menjadi perdebatan di media sosial karena hiasan kepala yang dipakai Hyunjin dan Vivi dianggap mirip dengan budaya India.

Hal ini berawal dari cuitan penggemar India yang berpendapat kalau hiasan yang dikenakan member LOONA merupakan dua perhiasan tradisional di Asia Selatan yakni maang tikka dan matha patti.

"Mengapa Vivi dan Hyunjin mengenakan perampasan budaya IS-a thread by desi. Pertama, apa itu maang tikka dan matha pattis? Maang tikkas dan matha pattis keduanya jenis hiasan rambut yang dikenakan oleh wanita India dalam pernikahan, perayaan & acara-acara khusus seperti liburan," begitu cuitan akun Twitter @thinkshaseul, 24 Juni 2021.

Dilansir Zigi.id dari Koreaboo, 25 Juni 2021, Maang tikka merupakan perhiasan terbuat dari rantai dan liontin yang dikenakan di dahi. Sementara Matha patti adalah versi yang lebih rumit dengan menampilkan logam mulia dan permata.

Keduanya dianggap sebagai bagian dari integral solah shringar, yakni serangkaian perhiasan yang digunakan wanita India dalam pernikahan mereka. Secara tradisional, perhiasan ini membentuk ritual yang membantu mempelai wanita lebih kuat dalam menjalani pernikahan.

Karena perhiasan itu memiliki makna budaya yang mendalam, sejumlah penggemar yang mengatakan Hyunjin dan Vivi tidak seharusnya mengenakan hiasan kepala itu dalam video musiknya.

"Tampak seperti liontin yang cantik, bukan. Matha pattis dan maang tikkas memiliki arti khusus untuk kami, karena mereka berasal dari agama hindu. Dalam agama hindu ada beberapa pusat energi utama dalam tubuh kita, yang kita sebut chakra. chakra ini menciptakan aliran energi yang berkelanjutan," sambung @thinkshaseul.

"Banyak dari kalian mungkin bertanya-tanya kenapa kami bilang Vivi dan Hyunjin memakai ini sebagai perampasan budaya jika mereka tidak mengejek budaya itu sendiri. Itu adalah apropriasi budaya karena budaya kami digunakan sebagai estetika," lanjutnya.

Agensi Belum Beri Penjelasan

Walaupun banyak yang setuju dengan pendapat netizen tersebut, tapi tidak sedikit yang membela LOONA. Beberapa dari mereka mengatakan kalau hiasan itu dipakai murni karena keindahannya. Ada juga yang berpendapat kalau hiasan itu tidak mirip budaya India. Malah sejumlah penggemar merasa hiasan kepala Hyunjin dan Vivi justru terlihat seperti hiasan kepala dari Yunani atau Romawi Kuno daripada perhiasan tradisional India.

"Apa yang Hyunjin dan Vivi kenakan lebih seperti dewi Yunani secara konsep jika melihat foto-foto teasernya. Hiasan kepala yang dipakai gadis India akhir-akhir ini tidak semuanya tradisional asli. Hiasan kepala asli benar-benar terbuat dari emas atau perak," cuit akun @SeeLoona.

Tapi sebelumnya, agensi yang menaungi LOONA, BlockBerry Creative sempat mengumumkan kalau lagu baru LOONA, PTT (Paint the Town), memiliki pengaruh Bollywood yakni sinema dari India. Alhasil banyak penggemar yang percaya bahwa kemungkinan besar perusahaan memang bertujuan untuk meniru budaya India di karya baru LOONA. 

Mengingat banyaknya pendapat yang menjadi perdebatan, penggemar memustukan untuk mengirim email ke BlockBerry Creative meminta penjelasan mereka tentang masalah ini. Tapi sampai saat ini perusahaan belum memberikan jawaban terkait kontroversi hiasan kepala member LOONA yang dianggap merampas budaya India itu.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.