Ikhtiar Menjaga Alam dan Mengembalikan Fungsi Pesisir

Bertahun-tahun mengalami kerusakan lingkungan akibat aktivitas pertambangan ilegal, HKm Seberang Bersatu mengembalikan fungsi kawasan sebagai pariwisata berkelanjutan.
Image title
Oleh Fitria Nurhayati - Tim Riset dan Publikasi
20 Desember 2020, 11:27
Hutan Mangrove
HKm Seberang Bersatu

Pesisir pantai dan ekosistem laut Gusong Bugis yang terletak di Desa Juru Seberang, Tanjungpandan, Kabupaten Belitung, Kepulauan Bangka Belitung pernah rusak parah. Tanaman mangrove yang seharusnya dilestarikan untuk menjaga kawasan pesisir, hanya tinggal tersisa sedikit saja. Alih-alih menemukan tanaman mangrove, justru lubang-lubang bekas tambang yang menganga lebar yang banyak ditemukan.

Sampai 2012, Desa Juru Seberang merupakan salah satu daerah pertambangan timah ilegal. Tak cukup menambang di daratan, masyarakat juga menambang di area pesisir pantai. Hutan mangrove pun jadi korban.

Akibat alih fungsi lahan, peran mangrove untuk menyeimbangkan ekosistem pesisir dan laut pun tak berfungsi. Gelombang dan arus laut yang kencang perlahan mengikis garis pantai. Material dari abrasi mengeruhkan perairan. Kemudian, ekosistem lamun dan terumbu yang ada di sekitarnya rusak karena tidak mendapat cukup pencahayaan untuk fotosintesis.

Kerusakan terumbu karang bukan hanya mengakibatkan pemandangan bawah laut tak lagi indah, tapi juga berdampak terhadap usaha nelayan. Jumlah ikan tangkapan nelayan menurun. Kalau mau mendapat banyak ikan, para nelayan harus berlayar lebih jauh dan tentu ini membutuhkan biaya lebih besar.

Menurut Ketua Hutan Kemasyarakatan (HKm) Seberang Bersatu, Marwandi, persoalan tersebut yang menghantam kesadaran masyarakat. “Lingkungan kami sudah rusak. Pendapatan lama-lama juga berkurang. Ini harus segera kami perbaiki,” katanya. 

Marwandi bersama masyarakat kemudian membentuk kelompok untuk mengembalikan fungsi kawasan. Usaha tersebut dimulai pada 2013. Pembentukan kelompok ini juga didampingi pemerintah daerah yang sedang gencar mensosialisasikan program Perhutanan Sosial.

Sembari memproses legalitas kelompoknya dari pemerintah, Marwandi dan kelompoknya mulai merehabilitasi lingkungan. Sadar  persoalan utamanya adalah rusaknya kawasan mangrove, mereka pun menetapkan rehabilitasi mangrove sebagai agenda utama.

Pohon mangrove yang baru beberapa bulan ditanam.
Pohon mangrove yang baru beberapa bulan ditanam. (HKm Seberang Bersatu)

Pada 2015, kelompoknya mendapat legalitas pengelolaan kawasan dalam skema Hutan Kemasyarakatan (HKm), dengan nama kelompok HKm Seberang Bersatu. Sebelumnya, Marwandi dan kelompok melakukan penanaman mangrove secara spontan. Di mana ada area kosong, di situlah mereka tanami.

Pada 2016, HKm Seberang Bersatu diajak bekerja sama dengan Yayasan TERANGI dan ICCTF untuk mengembangkan Belitung Mangrove Park sebagai strategi merehabilitasi kawasan mangrove dari area bekas tambang. Ini dimaksudkan untuk mengurangi dampak perubahan iklim pada ekosistem dan masyarakat pesisir. Lebih jauh, kegiatan ini akan berdampak pada penyediaan mata pencaharian masyarakat dengan melibatkan masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi perairan.

Langkah pertama yang dilakukan menghitung simpanan karbon, khususnya pada biomassa di atas permukaan tanah. Hasilnya, stok karbon rata-rata hanya 6,62 ton/ha dengan total stok karbonnya sebesar 4.704,2 ton dengan RMSE ±5.813 ton/ha. Berdasarkan perhitungan tersebut, HKm Seberang Bersatu memiliki stok karbon yang sangat rendah. Terutama di area bekas tambang. Ini menunjukkan akivitas pertambangan berdampak buruk pada ekosistem.

Setelah mengetahui stok karbon, dipetakan jenis tanaman yang cocok di masing-masing wilayah, seperti cemara laut, mahoni, dan lain-lain. Tujuannya agar ada peningkatan stok karbon, setidaknya 2 ton karbon/ha per tahunnya.

Hasil perhitungan karbon juga diserahkan kepada Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Bapedas). “Kelompok kami kemudian ikut serta dalam kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) sehingga mendapatkan ribuan bibit gratis,” ujar Marwandi. 

Dengan hidupnya kembali kawasan mangrove, hewan yang biasa hidup di sekitar mangrove juga bisa dikembangbiakkan lagi. Sebut saja kepiting, kerang bambu, udang, dan lainnya. Seiring dengan rehabilitasi kawasan pesisir, ekosistem bawah laut, khususnya terumbu karang juga mulai pulih. Perlahan-lahan, 80 persen terumbu karang sebelumnya rusak mulai membaik. Keindahannya mulai tampak.

Track wisata mangrove Credit
Track wisata mangrove (HKm Seberang Bersatu)

Anugerah Menjaga Alam

Pertengahan 2020, tim Katadata Insight Centre mensurvei 103 Kelompok Usaha Perhutanan Sosial se-Indonesia. HKm Seberang Bersatu terpilih sebagai kelompok perhutanan sosial percontohan dalam pemulihan lingkungan.

Poin utamanya, tutupan lahan meningkat lebih dari dua kali lipat dibanding sebelumnya. Dengan demikian, wilayah menghijau, vegetasi lahan bertambah, kualitas tanah membaik, udara pun jadi sejuk. Ini sejalan dengan pemetaan kawasan berdasarkan perhitungan karbon. Dari 160 hektare (ha) area HKm, 145 ha dijadikan kawasan mangrove dan 15 ha lainnya dijadikan perkebunan buah.

Ikhtiar mengembalikan fungsi kawasan bukan hanya berdampak terhadap meningkatnya tutupan lahan dan pulihnya kualitas lingkungan. Kelompok HKm memanfaatkan lingkungan sebagai bagian dari aktivitas yang menghasilkan secara ekonomi.

Tahun 2018 menjadi babak baru bagi HKm Seberang Bersatu. Secara resmi mereka membuka kawasan HKm sebagai area wisata. Ada track mangrove sepanjang 1 km yang bisa dinikmati keindahannya. Wisatawan juga bisa mendapatkan edukasi dan ikut serta menanam mangrove. Sambil rekreasi, sekalian reklamasi lingkungan. Pengunjung juga bisa mengadopsi mangrove yang mereka tanam. “Kami ajak pengunjung untuk cinta lingkungan,” kata Marwandi.

Bagi yang suka meneliti burung, pengunjung juga bisa mengamati beraneka  jenis burung yang hidup di sekitar mangrove. Bisa juga menangkap kepiting dengan alat tradisional tangkul/bubu menggunakan perahu seperti yang biasa dilakukan nelayan setempat. Atau jika mau lebih menantang, bisa menangkap kepiting pada malam hari menggunakan head lamp dan alat tangkap kepiting yang disebut sauk/tanggok.

Untuk mereka yang suka keindahan bawah laut, pengunjung bisa snorkeling ataupun diving. Apabila berwisata di siang hari masih kurang, kelompok juga menyediakan camping glamour, kegiatan di tepi pantai dengan view Kota Tanjungpandan saat malam hari. Bonusnya lagi, bisa melihat milky way.

Beragam aktivitas wisata tersebut menarik lebih dari 74 ribu pengunjung pada 2018, dan meningkat menjadi lebih dari 77 ribu pengunjung pada 2019. Kepala Dinas Kehutanan Kep. Bangka Belitung, Marwan mengatakan, pemanfaatan jasa lingkungan ini meningkatkan kesejahteraan kelompok dan masyarakat sekitar. “Setiap tahunnya kelompok bisa mendapatkan penghasilan Rp1,1 miliar,” ujarnya.

Marwandi menyadari kegiatan menjaga lingkungan merupakan aktivitas jangka panjang. Keuntungannya bukan hanya bisa dirasakan generasi sekarang, tapi juga generasi mendatang. Tugas berikutnya, menjaga semangat satu sama lain. “Kami saling menjaga, supaya tidak ada lagi aktivitas ilegal yang bisa merugikan lingkungan dan masyarakat,” kata Marwandi.

 

 

News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait