Elnusa Dapat Proyek Survei Seismik di Laut Andaman Aceh

Luas wilayah yang akan disurvei mencapai 2500 kilometer persergi (km2).
Arnold Sirait
Oleh Arnold Sirait
7 Agustus 2017, 11:11
elsa regent
www.etsa.co.id

PT Elnusa Tbk, salah satu perusahaan nasional penyedia jasa minyak dan gas bumi (migas), mendapat kepercayaan dari salah satu perusahaan migas besar Spanyol melakukan  survei seismik laut tiga dimensi (3D )di wilayah Andaman, Provinsi Aceh. Kegiatan ini akan dilakukan Agustus. 

Head of Corporate Communication Elnusa Sri Purwanto mengatakan dengan adanya proyek tersebut, Elnusa Trans Samudra (ETSA) akan menggerakan Elsa Regent dengan 10 steamer dan berbagai alat serta awal pendukung di lapangan operasi. ETSA merupakan anak usaha Elnusa yang bergerak di sektor perkapalan.

(Baca: SKK Migas Larang Kontraktor Gunakan Galangan Kapal Asing)

 

Sedangkan ELSA Regent adalah kapal survei seismik berbendera Indonesia dengan standar keselamatan kerja (HSE) kelas dunia yang paling canggih saat ini. “Juga diawaki langsung oleh para profesional anak negeri sendiri,” kata Sri kepada Katadata, Senin (7/8).

Adapun, luas wilayah yang akan disurvei oleh salah satu anak perusahaan PT Pertamina (Persero) mencapai 2500 kilometer persergi (km2). Kegiatan survei ini akan dilakukan kurang lebih empat bulan sejak bulan Agustus ini.

(Baca: Cari Sumber Migas, Pertamina EP Survei 3 Dimensi di Papua)

Di sisi lain, pendapatan Elnusa di sektor bisnis seismik pada semester I 2017 menurun dibanding periode yang sama tahun lalu. Sejak awal Januari hingga akhir Juni 2017, pendapatan di sektor bisnis tersebut hanya Rp 256 miliar. Padahal tahun lalu bisa Rp 313 miliar.

Penurunan juga terjadi di bisnis jasa pendukung migas (oil and gas support service). Pendapatan dari sektor ini hanya Rp 106 miliar, turun dibandingkan semester I-2016 sebesar Rp 138 miliar.

(Baca: Peralihan Blok Mahakam Penyebab Kinerja Keuangan Elnusa Melorot)

Satu-satunya bisnis yang mencatatkan kinerja positif adalah sektor jasa distribusi dan logistik energi (energy distribution & logistik services). Pendapatan dari bisnis ini mencapai Rp 1,1 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan semester I-2016 yang hanya Rp 650 miliar. 

Video Pilihan

Artikel Terkait