Gubernur BI: Neraca Perdagangan Mei Surplus

Salah satu cara untuk untuk memperbaiki neraca perdagangan adalah dengan melakukan diversifikasi pasar
Image title
Oleh
13 Juni 2014, 15:04
Bank-Indonesia_Katadata_Donang.jpg
KATADATA | Donang Wahyu
KATADATA | Donang Wahyu

KATADATA ? Neraca perdagangan pada Mei 2014 diperkirakan kembali surplus setelah pada April tercatat defisit US$ 1,96 miliar. Kinerja positif seiring membaiknya  kinerja ekspor nonmigas, terutama komoditas mineral.

?Kalau Mei kelihatannya, kondisinya sampai terakhir bisa kembali surplus. Tapi secara umum di kuartal II-2014 kita lihat ekspor masih cenderung tertekan karena komoditas utama Indonesia seperti batu bara dan CPO masih rendah karena musiman,? kata Menurut Agus Martowardojo, Gubernur Bank Indonesia (BI), yang ditemui di Gedung BI, Jakarta, Jumat (13/6).

Menurut dia, salah satu cara untuk untuk memperbaiki neraca perdagangan adalah dengan melakukan diversifikasi pasar. ?Diversifikasi negara yang akan menerima hasil tujuan ekspor kita,? ujar Agus.

Ini adalah cara yang paling memungkinkan untuk dilakukan saat ini. Persoalannya, program diversifikasi energi serta mengurangi beban subsidi belum dapat dilakukan saat ini. Impor bahan bakar minyak (BBM) merupakan penyebab terbesar neraca perdagangan menjadi defisit.

Agus juga berharap adanya perkembangan yang positif dari pembicaraan renegosiasi mineral. Sehingga penerimaan negara juga bisa meningkat. ?Harus ada supervisi yang ketat untuk renegosiasi ini,? imbuhnya.

Di sisi lain, Agus mengatakan, BI akan terus memantau pergerakan inflasi serta defisit neraca transaksi berjalan. Hal ini supaya target pertumbuhan ekonomi bisa sesuai target 5,1 persen ? 5,5 persen. Terlebih pemerintah berencana menaikkan tarif dasar listrik (TDL) mulai 1 Juli nanti. ?Itu pasti akan menambah tekanan terhadap inflasi,? tuturnya.

Sebelumnya, Bank Dunia tetap memperkirakan ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,3 persen pada 2014. Sedangkan secara global, Bank Dunia mengoreksi dari level 3,2 persen menjadi 2,8 persen. Lembaga itu juga menurunkan proyeksi ekonomi untuk tahun 2015 dan 2016, masing-masing menjadi 3,4 persen dan 3,5 persen.

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara, revisi terhadap pertumbuhan ekonomi global lebih disebabkan karena faktor musim dingin di Amerika Serikat (AS). ?Musim dingginya sangat dingin, jadi panennya kurang di kuartal I,? tuturnya.

Selain itu, lanjutnya, juga karena ada beberapa faktor yang dapat membantu pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap sesuai target, yakni ekspor, impor, dan pengeluaran pemerintah. ?Jadi masih aman.?

Sementara dampak pemotongan anggaran belanja yang diajukan dalam rencana pemotongan belanja pemerintah dalam (R-APBNP) 2014. Menurut Tirta, akan menurunkan laju pertumbuhan ekonomi sebesar 0,17 persen. ?Dari tadinya 5,32 persen, sekarang 5,15 persen,? terangnya.

Reporter: Desy Setyowati
Editor: Arsip
News Alert

Dapatkan informasi terkini dan terpercaya seputar ekonomi, bisnis, data, politik, dan lain-lain, langsung lewat email Anda.

Dengan mendaftar, Anda menyetujui Kebijakan Privasi kami. Anda bisa berhenti berlangganan (Unsubscribe) newsletter kapan saja, melalui halaman kontak kami.
Video Pilihan

Artikel Terkait