Melebihi Target Jokowi, Investasi di 2021 Capai Rp901 Triliun

Aryo Widhy Wicaksono
10 Juni 2022, 12:31
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (7/11/2019).
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (7/11/2019).

Indonesia pada 2021 telah menerima total investasi mencapai Rp901 triliun. Jumlah ini melampaui target yang dicanangkan Presiden Joko Widodo sebesar Rp900 triliun, maupun Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang mencapai Rp858,5 triliun.

Menurut Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia, pencapaian ini 100,1% lebih banyak dari target Presiden, dan 104,8% dari target RPJMN.

Dari investasi yang masuk, Rp454 triliun berasal dari luar negeri, sedangkan dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp447 triliun.

"Dari Foreign Direct Investment, FDI, sebesar 50,4%, PMDN kita 49,6%," ujar Bahlil saat Rapat Kerja bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), di kompleks parlemen, Jakarta, Jumat (10/6).

Investasi yang masuk ini juga berhasil menciptakan 133 ribu proyek di berbagai wilayah Indonesia, dan membuka sebanyak 1,2 juta lapangan kerja baru bagi masyarakat. 

Jika dilihat dari jumlahnya, total serapan tenaga kerja dari investasi cenderung stabil sejak akhir 2019.

 

Dari total investasi yang diterima di 2021, Bahlil melaporkan, 13% lari ke sektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya, dengan total nilai Rp117,5 triliun. Kemudian 13% lainnya, sebesar Rp 117,4 triliun, masuk ke sektor industri perumahan, kawasan industri, dan perkantoran.

Selanjutnya, untuk transportasi, gudang, dan telekomunikasi mencakup 11,9% dari total investasi, dengan nilai Rp 107,4 triliun. Listrik, gas dan air mendapatkan porsi terbesar keempat dengan nilai Rp81,6 triliun, atau 9,1% dari keseluruhan investasi.

"Ini searah dengan kebijakan bapak Presiden terkait dengan transformasi ekonomi dari industri sektor primer ke industri berbasis nilai tambah," ucap Bahlil.

Berdasarkan tren, investasi terhadap sektor industri logam dasar dan barang logam juga terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2019, investasi terhadap sektor ini mencapai Rp61,6 triliun, dan meningkat pada 2020 menjadi Rp94,8 triliun.

Bahlil merasa senang dengan pencapaian ini, terutama karena dilakukan pada saat pandemi masih melanda Indonesia, sehingga cukup sulit untuk menarik minat investor. "Bahkan kami bekerja, hampir 30% pasukan kami kena covid-19," ungkapnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ashri Fadilla

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...