Suku Bunga Riil Indonesia Belum Cukup Atraktif

Penulis:

Editor:

6/9/2013, 17.09 WIB

Suku bunga riil real interest rate Indonesia dalam dua bulan terakhir berada di level negatif

uang rupiah
KATADATA
KATADATA

KATADATA ? Suku bunga riil (real interest rate) Indonesia dalam dua bulan terakhir berada di level negatif. Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 7 persen belum mampu membuat pasar finansial Indonesia atraktif bagi investor.
 
Padahal BI pada bulan lalu dua kali menaikkan suku bunga acuan, yakni pada 15 dan 29 Agustus, masing-masing sebesar 50 basis poin (bps). Namun kedua Rapat Dewan Gubernur BI tersebut gagal mengantisipasi laju inflasi. Pada rapat terakhir, Dewan Gubernur memutuskan suku bunga menjadi 7 persen, sementara laju inflasi tahunan (year on year) per Agustus mencapai 8,79 persen.
 
Bagi investor, lebih tingginya laju inflasi dibandingkan tingkat suku bunga tidak menguntungkan lantaran imbal hasil yang diperoleh lebih rendah dari nilai riilnya. Dampaknya, nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan. Ini terlihat dari terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.


 
Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia Kamis (5/9), nilai tukar rupiah ditutup pada level Rp 11.181 per dolar Amerika Serikat, naik 12 persen  jika dibandingkan posisi dua bulan sebelumnya senilai Rp 9.995. Ini adalah periode pelemahan nilai rupiah yang tertinggi sejak awal tahun. Adapun sejak awal 2013, rupiah sudah mengalami pelemahan sebesar 15 persen.  
 
Dengan situasi perekonomian Indonesia saat ini, Bank Indonesia memang perlu berhati-hati dalam membuat kebijakan moneter. Apalagi, pemerintah meminta Bank Indonesia ikut menjaga pertumbuhan ekonomi. Kenaikan suku bunga dikhawatirkan akan menyebabkan perlambatan ekonomi.
 
Haryo Aswicahyono, ekonom senior Centre for Strategic and International Studies (CSIS), mengatakan pemerintah dan Bank Indonesia harus bisa memilih fokus kebijakan yang akan diambil. Menurutnya yang terpenting saat ini adalah bagaimana mengendalikan inflasi yang tinggi dengan mengorbankan pertumbuhan ekonomi dan menekan impor.
 
Artinya, kata Haryo, Bank Indonesia perlu menaikkan suku bunga kembali. Dengan suku bunga yang tinggi, maka permintaan konsumsi juga akan turun karena orang akan cenderung menabung. Begitu pula jika BI Rate naik, maka suku bunga pinjaman akan naik dan menekan investasi sehingga pertumbuhan akan turun.
 
Alhasil dengan investasi dan konsumsi yang turun maka inflasi akan terkendali. Dengan begitu harga barang produksi juga akan lebih murah dan daya saing ekspor akan membaik. Pada akhirnya rupiah akan menguat.  ?Kalau pertumbuhan melemah, impor turun sehingga permintaan dolar juga turun,? katanya saat dihubungi Katadata

Reporter: Aria W. Yudhistira

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan