Jusuf Kalla: Bunga Kredit Indonesia Tertinggi di Asia

Penulis: Maria Yuniar Ardhiati

25/2/2016, 12.52 WIB

Pemerintah sedang merancang program untuk menekan suku bunga kredit menjadi single digit (di bawah 10 persen) tahun depan

Jusuf Kalla
Arief Kamaludin|KATADATA
Wakil Presiden Jusuf Kalla berpidato dalam acara Indonesia Summit di jakarta, Kamis (25/2). (KATADATA | Arief Kamaludin)

KATADATA - Perlambatan ekonomi yang sedang menghantam dunia telah menyeret negara-negara regional. Termasuk Indonesia yang mengalami pelemahan dalan berbagai aspek. Padahal menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, banyak hal positif yang bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan perekonomian Indonesia. Sumber daya yang melimpah, besarnya jumlah penduduk kelas menengah, serta kekayaan sumber daya alam menjadi kelebihan Indonesia.

Masalahnya Indonesia masih menghadapi tantangan untuk berkompetensi dengan negara lain dan menjadi lebih efisien. “Kita tahu bunga kredit Indonesia saat ini tertinggi di Asia. Suku bunga kita sekitar 10-12 persen,” kata Kalla saat berpidato dalam acara “The Economist Events’ Indonesia Summit 2016” di Hotel Shangrila, Jakarta, Kamis (25/2).

Dia mengatakan pemerintah terus berupaya untuk membuat Indonesia bisa efisien dalam menghadapi persaingan. Saat ini pemerintah sedang merancang program untuk menekan suku bunga kredit menjadi single digit tahun depan. Menurut dia, kebijakan pemerintah akan sangat mempengaruhi penurunan suku bunga di bawah 10 persen. (Baca: Rata-Rata Bunga Kredit Kuartal I-2016 Diperkirakan Turun)

Pemerintah berharap dalam tiga tahun ke depan, industri dalam negeri bisa lebih efisien. Selain dengan pembangunan infrastruktur seperti jalan, bandara, dan telekomunikasi, penurunan biaya juga bergantung pada bunga kredit dari perbankan.

“Bank Indonesia (BI) telah mengumumkan BI rate turun dan kami sangat menghargai itu,” ujar Kalla. Penurunan suku bunga akan memberi dampak positif, termasuk meringankan beban industri. Dengan tawaran bunga yang rendah, industri yang semula mengandalkan pinjaman luar negeri, bisa beralih ke perbankan nasional.

Setelah BI menurunkan suku bunga acuan dan Giro Wajib Minimum (GWM), dua bank negara berencana memangkas bunganya. Kedua bank tersebut adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI) dan Bank Mandiri. Direktur BRI Haru Koesmahargyo menyatakan kebijakan moneter bank sentral tersebut sangat mendukung perbankan. “Suku bunga (kredit) pasti didorong turun,” kata Haru di Jakarta, Kamis (18/2). (Baca: BI Rate Turun Jadi 7 Persen, Terendah dalam 2,5 Tahun)

Menurut dia, pertumbuhan ekonomi yang melambat dari tahun lalu telah mendorong perbankan  memberikan bunga lebih rendah. Hal ini akan menciptakan kompetisi yang lebih sehat di industri perbankan. Atas dasar ini BRI memutuskan akan menurunkan suku bunga deposito dan kredit. Bank pelat merah ini, kata haru, segera mengambil langkah tersebut sebelum kehilangan momentum.

Seperti halnya BRI, Bank Mandiri juga akan menempuh kebijakan serupa. Sekretaris Perusahaan Bank Mandiri Rohan Hafas menyebut bank ini akan menurunkan suku bunganya. “Dalam dua hingga tiga bulan,” ujarnya. Dia mengklain sebenarnya bunga deposito bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) ini sudah sangat rendah pada kisaran 6 persen. Adapun bunga kreditnya di kisaran 9-12 persen. (Baca: BRI dan Mandiri Berencana Turunkan Bunga)

Reporter: Ameidyo Daud

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha