Renegosiasi Kerja Sama dengan Jepang Ditargetkan Rampung September

Penulis: Muhammad Firman

Editor: Pingit Aria

4/4/2017, 21.08 WIB

Salah satu ganjalan dalam renegosiasi IJEPA adalah permintaan Jepang agar Indonesia menurunkan bea masuk mobil produksi mereka.

Kunjungan PM Jepang ke Indonesia
ANTARA FOTO/Rosa Panggabean
Presiden Joko Widodo bersama Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe melakukan konferensi pers di Istana Bogor, Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/1).

Pemerintah menargetkan renegosiasi Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) bisa rampung dalam lima bulan ke depan. Sebelumnya, meski IJEPA telah disepakati 10 tahun lalu, dalam pelaksanaannya masih ada kendala soal tarif.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita telah ditunjuk menyelesaikan renegosiasi  ini. “Kami minta daftar dari mereka. Ya September selesai lah,” katanya usai rapat koordinasi perdagangan internasional di Kementerian Koordinator Perekonomian, Selasa (4/4).

Salah satu ganjalan dalam renegosiasi IJEPA adalah permintaan Jepang agar Indonesia menurunkan bea masuk mobil Completely Built Up (CBU) produksi mereka. Permintaan ini sulit diakomodasi karena pemerintah menilai dalam soal otomotif, perdagangan kedua negara masih timpang.

(Baca juga: Pemerintah Ingin Tinjau Ulang Kerja Sama Indonesia – Jepang)

Saat ini Indonesia masih berpegang pada lampiran Peraturan Menteri Keuangan nomor 209 tahun 2012 Tentang Penerapan Tarif Bea Masuk IJEPA, untuk mobil penggerak dua roda dengan kapasitas mesin 1.800 cc. Dalam regulasi itu, sejak 2013 tarif masuk ditetapkan sebesar 28,1 persen, pada 2015 sebesar 22,5 persen, pada 2016 menjadi 19,7 persen dan pada 2018 akan kembali diturunkan menjadi 14,1 persen.

Sementara, pihak Jepang masih ngotot bertahan dengan perjanjian awal yang disepakati pada 20 Agustus 2007 yakni bea masuk otomotif ke Indonesia sebesar 5 persen mulai 2016.

Di pihak lain, Jepang pun belum membebaskan bea masuk produk makanan dan minuman asal Indonesia seperti yang disepakati dalam IJEPA. “Saya minta wewenang untuk itu (renegosiasi). Kalau ngga, dispute terus dan Jepangnya marah,” kata Enggar.

(Baca juga: Honda dan Yamaha Kompak Ajukan Keberatan Atas Putusan Kartel KPPU)

Menarik dicermati, perdagangan Indonesia dan Jepang memang terus menurun. Jika pada 2011 total perdagangan kedua Negara mencapai US$ 53,15 miliar, maka pada 2016 jumlahnya tinggal US$ 29,08 miliar. Begitu juga nilai surplus neraca dagang Indonesia terhadap Jepang terus merosot dari US$ 14,27 miliar pada 2011 hingga tinggal US$ 3,11 miliar pada 2016.

Sementara, dalam setahun terakhir investasi Jepang di Indonesia justru meningkat hingga dua kali lipat. Dari US$ 2,87 miliar pada 2015 menjadi US$ 5,4 miliar tahun lalu. Jepang juga salah satu sumber wisatawan terbesar Indonesia, dengan kunjungan 513.297 turis Jepang ke Indonesia pada tahun 2016.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan