Peringkat Kemudahan Usaha Tak Cukup Dorong Penguatan Kurs Rupiah

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Martha Ruth Thertina

1/11/2017, 18.23 WIB

"Potensi kenaikan suku bunga The Fed dan perbaikan data ekonomi di Amerika Serikat membuat dolarnya menguat terhadap semua currency," kata Ekonom Juniman.

Uang rupiah
Arief Kamaludin|Katadata

Laporan Bank Dunia tentang kenaikan peringkat kemudahan berusaha (Ease of Doing Business/EoDB) Indonesia tak cukup menyokong penguatan nilai tukar rupiah. Pada perdagangan Rabu, (11/1), rupiah ditutup melemah 0,13% ke level 13.580 per dolar Amerika Serikat (AS).

Peringkat kemudahan berusaha Indonesia kembali mengalami kenaikan. Bank Dunia melansir peringkat Indonesia naik 19 level ke posisi 72 dunia. Peringkat tersebut lebih baik dibandingkan Tiongkok yang berada di posisi 78. Namun, masih kalah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand yang masing-masing berada di posisi 24 dan 26 dunia.

Ekonom Maybank Indonesia Juniman mengatakan kenaikan peringkat kemudahan usaha memberikan sentimen positif terhadap iklim investasi di Indonesia. Namun, sentimen positif dari dalam negeri tersebut tidak cukup membuat investor asing menahan dananya di pasar keuangan domestik. Alhasil, nilai tukar rupiah masih tertekan. (Baca juga: Peringkat Kemudahan Usaha RI Naik, Urusan Pajak Dapat Nilai Minus)

Menurut Juniman, arus keluar investasi asing terjadi lantaran adanya peluang kenaikan bunga dana di Amerika Serikat (AS) seiring perbaikan ekonomi di Negeri Paman Sam tersebut. Peluang tersebut membuat sentimen positif menguat terhadap dolar AS. Alhasil, dolar AS perkasa terhadap mata uang dunia, termasuk rupiah.

"Rupiah berkaitan dengan global. Masih adanya potensi kenaikan suku bunga The Fed dan perbaikan data ekonomi di Amerika Serikat membuat dolarnya menguat terhadap semua currency," kata Juniman kepada Katadata, Rabu (1/11).

Menurut dia, untuk bisa membuat rupiah menguat, investor portofolio perlu meyakini bahwa kenaikan peringkat kemudahan berusaha mampu membuat investasi asing langsung (Foreign Direct Investment/FDI) di Indonesia membaik signifikan. Sebab, jika FDI kuat maka pertumbuhan ekonomi Indonesia berpotensi kian baik. "Karena investor portofolio itu akan melihat profit," ucapnya.

(Baca juga: Pengusaha: Ranking Kemudahan Usaha Naik Tak Otomatis Memacu Investasi)

Meski ada tekanan keluar investasi asing dari pasar keuangan domestik, namun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat bergerak positif bahkan sudah menembus rekor baru yaitu di level 6.000. Penyokongnya, aksi beli saham oleh investor domestik. Pada Rabu (11/1), IHSG tercatat menguat 0,54% ke level 6.038.

"Asing sejak Mei sudah keluar. Stock market dari Mei sampai sekarang itu ditopang investor domestik. Ini karena turunnya suku bunga acuan (BI 7 Days Repo Rate) makanya investasi di bank enggak menarik lagi," kata dia.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan