Pemerintah Gandeng Korea untuk Produksi Baterai Mobil Listrik

Penulis: Anggita Rezki Amelia

Editor: Arnold Sirait

23/11/2017, 17.40 WIB

Kerja sama ini nantinya melibatan kampus teknologi Indonesia. Jadi mahasiswa dari kampus tersebut bisa melakukan penelitian di Korea.

Mobil Listrik Nissan E-Power
Arief Kamaludin|KATADATA
Mobil listrik Nissan E-Power di acara GIIAS 2017, Tangerang, Banten, Kamis (10/8).

Pemerintah berencana menggandeng Korea Selatan (Korsel) untuk memproduksi baterai mobil listrik. Alasannya negara tersebut merupakan salah satu yang maju dalam pengembangan baterai lithium untuk mobil listrik.

Rencana kerja sama itu juga telah dibahas hari ini, Kamis (24/11) antara Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia Taiyoung Cho di Jakarta. “Tadi kami berbicara mengenai baterai lithium untuk mobil listrik. Mereka dengan Jepang yang leading soal baterai,” kata Luhut usai pertemuan itu.

Kerja sama ini nantinya melibatan kampus teknologi Indonesia. Jadi mahasiswa dari kampus tersebut bisa melakukan penelitian di Korea. Sebaliknya, bisa saja pihak Korea yang akan datang ke Indonesia.

Harapannya baterai lithium itu bisa diproduksi di dalam negeri. “Kami mau buat kerja sama karena di Indonesia material banyak kenapa mesti impor,” ujar Luhut.

Baterai lithium merupakan baterai yang mampu menyimpan energi secara tahan lama pada mobil listrik. Selain tahan lama baterai tersebut juga ramah lingkungan.  Mobil listrik memang harus nenggunakan baterai lithium. Dengan baterai lithium proses pengisian ulang daya mobil listrik juga bisa menjadi bisa cepat.

Saat ini pemerintah memang gencar mengembang kendaraan listrik. Bahkan ada usulan dari Kementerian ESDM untuk menghentikan penjualan mobil kendaraan berbahan bakar minyak (BBM) di 2040. Untuk mendukung upaya tersebut, sedang disiapkan peraturan mengenai kendaraan listrik. Salah satu isinya terkait insentif kepada produsen mobil listrik.

(Baca: Jonan Usul ke Jokowi Larang Penjualan Mobil BBM di 2040)

Selain rencana kerjasama pengembangan baterai mobil listrik, pertemuan Luhut dengan Taiyoung Cho membahas mengenai proyek kereta ringan (Light Rail Transit /LRT) Jakarta. Harapannya perusahaan Korea Selatan yang ingin berinvestasi di sektor tersebut bisa melakukan transfer teknologi.

Sehingga Indonesia bisa memperoleh teknologi dengan kualitas dan harga terbaik. “Mau pakai Siemens, Hyundai, atau mana, tapi semua mesti transfer teknologi,” kata Luhut.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan