Margin pengusaha SPBU dalam menjual produk Pertamina seperti Pertamax dan Pertalite lebih tinggi dibandingkan Premium.
Premium pertamina
Petugas SPBU mengisikan bahan bakar jenis premium kepada kendaraan pelanggan di Jakarta. Arief Kamaludin|KATADATA

PT Pertamina (Persero) membantah telah menghapus keberadaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium. Dalihnya, penghapusan BBM berkadar oktan 88 ini merupakan kebijakan masing-masing pengelola Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Direktur Pemasaran Pertamina Muchamad Iskandar mengatakan beberapa pengelola SPBU seperti yang ada di Jakarta dan Surabaya memang mengubah dispenser Premium ke Pertalite dan Pertamax. Alasannya penjualan Premium menurun, karena masyarakat beralih ke Premium dan Pertamax.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Menurut Iskandar, konsumsi Premium saat ini memang turun hingga 50%. Jika dulu konsumsi bahan bakar berkadar oktan 88 ini bisa mencapai 80 Kiloliter (KL), kini hanya 40 KL.

Sementara itu, saat ini konsumsi harian bensin seluruh produk Pertamina mencapai 80 KL. Setengah dari jumlah itu merupakan konsumsi Pertalite dan Pertamax.

Alasan lainnya adalah margin pengusaha SPBU dalam menjual produk Pertamina seperti Pertamax dan Pertalite lebih tinggi dibandingkan Premium. Sehingga pengusaha SPBU lebih memilih mengganti tangki premium di SPBU menjadi tangki-tangki Pertalite dan Pertamax. 

Namun, ketika saat ini terjadi selisih harga yang besar antara Premium dan Pertamax, pemilik SPBU akan sulit mengubah tangkinya kembali ke Premium. "Tiba-tiba kan gap-nya naik lagi nih, jadi ini persoalan. Tidak mungkin dibalikin lagi. Untuk mengisi lagi kan perlu cleaning dan mengubah jet pompa lagi,"ujar dia di Jakarta, Senin (4/12).

Di sisi lain, perbedaan harga yang makin jauh dengan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium, ternyata tak mempengaruhi penjualan Pertamax. Sampai saat ini PT Pertamina (Persero) mengklaim, Pertamax masih diminati masyakarat.

Alhasil, Pertamina tidak khawatir dengan adanya selisih harga yang makin jauh tersebut. "Sampai sekarang tidak ada pengaruh ke penjualan Pertamax. Jadi kami optimistis masyarakat tetap beli,"kata dia.

Dari data Badan Pengatur Hilir (BPH) Migas, harga Pertalite sebesar Rp 7.500 per liter, Pertamax Rp 8.400 per liter, Pertamax Turbo Rp 9.350 per liter. Adapun harga Premium di luar Jawa, Madura dan Bali (Jamali) sebesar Rp 6.450 per liter. Sedangkan di Jamali sekitar Rp 6.550 per liter.

(Baca: Pemerintah Buka Peluang Harga Premium dan Solar Naik Tahun Depan)

 

Pertamina juga mendorong masyarakat beralih menggunakan produk BBM yang lebih bagus kualitasnya, sehingga bisa berdampak positif bagi lingkungan.  Apalagi premium juga lambat laun semakin berkurang keberadaaanya seiring dengan meningkatnya kualitas kilang-kilang minyak Pertamina dalam beberapa tahun ke depan. 

Artikel Terkait
Presiden Joko Widodo memang berharap kendaraan listrik bisa mayoritas setelah tahun 2040.
Pertamina berencana meluncurkan produk tersebut Maret 2018
Pertamina membentuk satuan tugas (satgas) untuk pengamanan pasokan bahan bakar yang bertugas sejak 18 Desember 2017 hingga 8 Januari 2018.