Saat Perbankan Berlomba Adopsi Teknologi

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

Kamis 8/3/2018, 18.40 WIB

Perbankan berlomba merilis berbagai fitur, mulai pengenalan nasabah, transaksi hingga investasi secara digital.

Digital e-commerce
Arief Kamaludin | KATADATA

 

Perbankan berlomba-lomba mengadopsi teknologi canggih untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan nasabahnya. Sebab seiring perkembangan zaman, masyarakat menuntut kemudahan, kecepatan, dan pengalaman bertransaksi yang tidak biasa.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Bank Permata merilis beragam layanan berbasis teknologi untuk nasabah. Di antaranya adalah alat pemindai sidik jari, wajah, hingga suara untuk identifikasi nasabahnya.

"Kalau kami masih mau relevan dengan konsumen yang sudah digital, kami harus investasi di teknologi," kata Direktur Teknologi dan Operasi Bank Permata Abdy Salimin di Restoran Blue Jasmine, Jakarta, Kamis (8/3).

Ia menjelaskan, Finger ID adalah fitur pemindai sidik jari yang mempermudah nasabah Bank Permata untuk masuk ke aplikasi mobile banking hanya dengan sentuhan. Fitur itu juga dilengkapi dengan Facial ID, yang bisa mengidentifikasi wajah nasabah untuk bisa masuk ke aplikasi. Selain itu, Voice ID merupakan pemindai suara yang digunakan untuk mengidentifikasi suara nasabah saat mereka menghubungi call center.

(Baca juga: Teknologi Jadi Prioritas Transformasi Bisnis Perbankan)

Dari sisi instrumen investasi, Bank Permata juga meluncurkan fitur E-Bond yakni transaksi obligasi melalui internet banking. Fitur ini baru dirilis pada akhir tahun lalu.

Abdy menyatakan, Bank Permata akan merilis lebih banyak fitur berbasis teknologi di tahun ini. Menurutnya, layanan baru tersebut akan disesuaikan dengan kebutuhan nasabah, termasuk bagi difabel.

"Kalau kami investasi di teknologi, kami selalu lihat bagaimana kami bisa memperbaiki costumer experience," ujarnya tanpa menyebut nilai investasi yang digelontorkan.

Tak hanya Bank Permata, Development Bank of Singapore (DBS) juga fokus beralih ke digital dengan meluncurkan Digibank. Bank asal Singapura itu pun menggelontorkan investasi S$ 200 juta atau setara Rp 2,03 triliun untuk mengembangkan Digibank di India dan Indonesia. DBS menargetkan 3,5 juta nasabah terdaftar dalam layanan perbankan digital tersebut hingga 2022.

Adapun, costumer experience yang ditawarkan Digibank adalah program Know Your Costumer secara elektronik (e-KYC). Program ini memungkinkan calon nasabah membuka rekening baru dalam kurun waktu tiga menit, dan hanya perlu membawa Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP). Untuk menjangkau generasi millenial, Digibank pun membuka e-KYC store di 21 kedai kopi di Jakarta, Tangerang, Bandung, dan Surabaya.

(Baca juga: Digitalisasi Layanan KPR, BTN Anggarkan Rp 300 miliar)

Bank lain yang beralih ke digital adalah Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN), dengan aplikasi Jenius dan BTPN Wow! Melalui Jenius, pengguna bisa membuka rekening, mengatur limit kartu, blokir dan buka blokir kartu, serta manajemen keuangan secara mandiri menggunakan smartphone berbasis Android dan iOS. BTPN disebut-sebut menginvestasikan lebih dari Rp 1,2 triliun untuk pengembangan platform digitalnya dalam tiga tahun terakhir.

Direktur Keuangan BTPN Arief Harris Tandjung menyebutkan, pengguna dua aplikasi digital BTPN tersebut, telah mencapai 5,3 juta nasabah hingga akhir 2017. Rinciannya, BTPN Wow! memiliki 4,8 juta nasabah, sedangkan Jenius 500 ribu nasabah. Menurut dia, jumlah tersebut cukup tinggi lantaran kedua platform itu baru melayani wilayah DKI Jakarta dan menyusul wilayah Bandung pada akhir 2017.

Beberapa bank juga diketahui mengadopsi aplikasi percakapan (chatting) berbasis digital. PT Bank Negara Indonesia (BNI), misalnya, meluncurkan Chat with your INTelligent Advisor (CINTA).

Tak mau kalah, PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) juga merilis aplikasi chatbot bernama Smart BRI New Assistant (Sabrina). "Segmen milenial harus diikuti lifestylenya. Kalau tidak nanti bukan jadi bank yang dipilih," ujar Direktur Konsumer BRI Handayani.

(Baca juga: Keluarkan Investasi Besar, Bank Berlomba Buat Layanan Digital)

Sementara itu, Bank Central Asia (BCA) berencana mengakuisisi bank kecil untuk dijadikan bank digital. Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja menargetkan proses akuisisi tersebut rampung dalam waktu beberapa bulan.

Sedangkan Direktur Distribusi Bank Mandiri Hery Gunardi menyampaikan, perusahaannya masih akan fokus meningkatkan transaksi elektronik seperti mobile banking, internet banking, dan SMS banking.

 

Reporter: Desy Setyowati