Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan Jadi Tersangka Korupsi

Penulis: Dimas Jarot Bayu

Editor: Yuliawati

4/4/2018, 17.45 WIB

Pengambilan keputusan investasi dengan dugaan kerugian negara Rp 568 miliar, tanpa didasari adanya kajian kelayakan

Karen Agustiawan
Arief Kamaludin | Katadata
Mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Agustiawan menjelang melepas masa jabatannya pada 1 Oktober 2014.

 

Kejaksaan Agung menetapkan mantan Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Karen Galaila Agustiawan sebagai tersangka dalam kasus korupsi terkait investasi perusahaan di Blok Basker Manta Gummy (GMG) Australia pada 2009. Kasus investasi tersebut diperkirakan merugikan negara sebesar Rp 568 miliar.

Kepala Pusat Penerangan Hukum Kejaksaan Agung M Rum mengatakan, penetapan Karen sebagai tersangka berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Tap-13/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018. Karen diduga terlibat dalam penyalahgunaan investasi Pertamina di Blok BMG Australia tahun 2009.

Rum menjelaskan, kasus ini bermula ketika Pertamina pada 2009 melakukan kegiatan akuisisi (Investasi Non Rutin) berupa pembelian sebagian aset melalui Interest Participating (IP) milik ROC Oil Company Ltd di lapangan BMG Australia. Akuisisi tersebut didasari pada Agreement for Sale and Purchase BMG Project tanggal 27 Mei 2009 senilai US$ 31,91 juta.

(Baca: Karen Mundur Saat Pertamina Kesulitan Keuangan)

Dalam pelaksanaannya ditemui adanya dugaan penyimpangan dalam pengusulan investasi yang tidak sesuai dengan pedoman investasi. Alasannya, pengambilan keputusan investasi tersebut tanpa didasari adanya kajian kelayakan (feasibility study) berupa kajian secara lengkap (final due dilligence).

Selain itu, pengambilan keputusan juga tanpa adanya persetujuan dari Dewan Komisaris Pertamina. "Yang mengakibatkan peruntukan dan penggunaan dana sejumlah US$ 31,492,851 serta biaya-biaya yang timbul lainnya (cash call) sejumlah AU$ 26,808,244 tidak memberikan manfaat ataupun keuntungan kepada PT. Pertamina (Persero) dalam rangka penambahan cadangan dan produksi minyak nasional," kata Rum dalam keterangan tertulisnya, Rabu (4/4).

Atas perbuatannya, Karen pun disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1), Pasal 3 Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Selain Karen, Kejaksaan juga menetapkan Chief Legal Councel and Compliance Pertamina Genades Panjaitan dan mantan Direktur Keuangan Pertamina Frederik Siahaan sebagai tersangka. Genades ditetapkan berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Tap-14/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018.

"Frederik (ditetapkan sebagai tersangka) berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: Tap-15/F.2/Fd.1/03/2018 tanggal 22 Maret 2018," kata Rum.

Sebelumnya, Kejaksaan Agung telah menetapkan mantan Manager Merger & Acquisition (M&A) Direktorat Hulu Pertamina berinisial BK. Hal tersebut dilakukan berdasarkan Surat Perintah Penetapan Tersangka Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Nomor: TAP-06/F.2/Fd.1/01/2018 tanggal 23 Januari 2018.

"Tim penyidik telah memeriksa saksi sebanyak 67 orang," kata Rum.

(Baca juga: Usut Jual Aset, Polri Periksa Mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan)

Selain kasus ini, Karen juga pernah menjalani pemeriksaan sebagai saksi di Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri terkait kasus dugaan korupsi dalam penjualan aset tanah PT Pertamina di Simprug, Jakarta Selatan.

Karen menjalani pemeriksaan pada Juli 2017 untuk melengkapi berkas tersangka Senior Vice President Asset Management Pertamina Gatot Harsono.

Gatot ditetapkan sebagai tersangka pada 15 Juni 2017 dengan dugaan terlibat dalam penjualan melepas aset tanah seluas seluas 1.088 meter persegi pada 2011 lalu.

Penjualan aset Pertamina tersebut disinyalir tidak melalui prosedur yang benar sehingga merugikan negara sebesar Rp 40,9 miliar. Perhitungan kerugian berdasarkan hasil analisis Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Gatot sempat melarikan diri dan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) pada 23 Agustus 2017. Pada 21 Februari 2018, Gatot menyerahkan diri ke penyidik dan kini menjadi tahanan kejaksaan sembari menunggu persidangan.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha