Programmer sebagai Alternatif Profesi bagi Penyandang Disabilitas

Penulis: Pingit Aria

10/4/2018, 13.00 WIB

Para penyandang disabilitas dinilai cocok untuk dilatih sebagai programmer karena pekerjaan ini relatif tidak membutuhkan mobilitas fisik yang tinggi.

Bekraf
Bekraf
Peresmian program Coding Mum Disabilitas oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) di Jakarta, 14 Februari 2018.

Kekurangan talenta masih kerap disebut sebagai hambatan penting bagi pengembangan ekonomi digital di Indonesia. Padahal, banyak potensi sumber daya manusia yang bisa dididik sebagai tenaga ahli di bidang digital, termasuk sebagai pemrogram.

Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) bekerja sama dengan PT Kolaborasi Ide Keatif menyelenggarakan program pendidikan untuk menghasilkan programmer sebagai alternatif profesi bagi para penyandang disabilitas. Program ini diberi nama Coding Mum Disabilitas, sebagai pengembangan dari Coding Mum yang telah dilaksanakan sejak 2016 dengan sasaran ibu rumah tangga dan buruh migran.  

Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf mengatakan, Coding Mum Disabilitas merupakan program yang dirancang untuk menjawab tantangan alert coder atau kekurangan tenaga pemrogram di Indonesia. Program ini telah dilaksanakan di Jakarta dan Bandung.

“Bandung merupakan kota kedua kegiatan ini setelah Jakarta, dan akan dilanjutkan di Surabaya,” katanya, Senin (10/4) kemarin.

Triawan menambahkan, para penyandang disabilitas dinilai cocok untuk dilatih sebagai programmer karena pekerjaan ini relatif tidak membutuhkan mobilitas fisik yang tinggi. Pemrograman justru membutuhkan ketekunan untuk berkonsentrasi penuh dengan aktifitas fisik yang minim.

(Baca juga: Skala Bisnis Startup Lokal Naik Signifikan dalam 5 Tahun)

Materi pelatihan Coding Mum Difable  diberikan oleh pengajar dari beberapa institusi pendidikan seperti Clevio, Dilo Mikti dan ProCode CG. Pelatihan ini akan memberikan pengetahuan dan keahlian dalam mendesain serta teknik produksi yang menggunakan HTML dan Javascript.

Dari hasil kegiatan ini para peserta diharapkan dapat menjadi web developer atau internet marketer. Dua jenis pekerjaan ini menurut Triawan masih sangat membutuhkan tenaga ahli. “Dibutuhkan setidaknya 100 ribu programmer andal untuk membangun 1000 startup yang berkualitas,” ujarnya.

Kekurangan ini membuat perusahaan – perusahaan ekonomi kreatif berbasis teknologi yang sedang tumbuh di indonesia harus mengimpor tenaga yang dibutuhkan dari luar negeri, termasuk India.

Sebelumnya, Coding Mum merupakan salah satu program unggulan Bekraf. Sejak 2016, Coding Mum telah memberikan pelatihan bahasa pemrograman komputer untuk ibu - ibu rumah tangga di Jakarta, Surabaya, Bandung, Bogor, Malang dan Makassar. 

(Baca juga: Inilah 13 Fintech yang Akan Berkembang Pesat di Indonesia)

Pada tahun 2017, kegiatan Coding Mum dikembangkan bukan hanya di dalam negeri tetapi juga luar negeri. Dengan menggandeng PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Coding Mum dilaksanakan buat para buruh migran Indonesia di Singapura, Hongkong dan Malaysia.

Pada tahun 2018 ini, Coding Mum untuk ibu - ibu rumah tangga di dalam negeri akan dilaksanakan di sepuluh kota masing masing: Depok, Manado, Jayapura, Sorong, Pontianak, Samarinda, Kendari, Bandar Lampung, Palembang, Tanjung Pinang. Adapun di luar negeri, rencananya akan diadakan di enam negara masing - masing Singapore, Malaysia, Hongkong, Jepang, Korea Selatan dan Taiwan.

Reporter: Metta Dharmasaputra

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan