Grab Bangun Laboratorium Kecerdasan Buatan Senilai Rp 63 Miliar

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

19/7/2018, 12.33 WIB

Laboratorium artificial intelligence Grab dibangun melalui kerja sama dengan National University of Singapore.

Grab Taksi
Arief Kamaludin|KATADATA

Perusahaan penyedia layanan transportasi berbasis online, Grab membangun laboratorium kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) senilai US$ 4,4 juta atau setara Rp 63 miliar di Singapura. Grab menggaet National University of Singapore (NUS) untuk mengembangkan laboratorium tersebut.

Grab bakal memanfaatkan data lebih dari 2 juta mitra pengemudi di Asia Tenggara sebagai bahan penelitian. "Kami memiliki misi mengatasi tantangan kompleks di Asia Tenggara, seperti kemacetan," kata CEO dan Co- founder Grab Anthony Tan dikutip dari nus.edu.sg, Rabu (18/7).

Hasil penelitian ini akan dimanfaatkan untuk menentukan layanan transportasi yang cocok di masing-masing negara di Asia Tenggara. Ia berharap, kemacetan dan tantangan lainnya bisa diatasi melalui layanan Grab seperti grabshuttle, grabshare ataupun grabhitch.

"Saya berharap bisa bekerja sama dengan pemerintah untuk mengubah data dari Grab-Nus AI Lab menjadi solusi," ujarnya. (Baca juga: Diancam Demo Saat Asian Games, Grab Tetap Tolak Naikkan Tarif)

Para peneliti NUS menggunakan data mitra pengemudi untuk memetakan pola lalu lintas di Asia Tenggara. Dari situ akan dikaji transportasi yang tepat agar mobilitas masyarakat lebih efisien. Mereka juga fokus mengembangkan algoritma, agar layanan Grab lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen. Salah satunya dengan meningkatkan presisi dan akurasi pemetaan titik penjemputan.

President of NUS Tan Eng Chye mengapresiasi kerja sama ini, karena memberi kesempatan bagi peneliti dan siswanya untuk berkontribusi dalam mengatasi persoalan transportasi. "Kami bekerja sama membuat inovasi AI yang unik berdasarkan wawasan yang relevan di Asia dan dunia," ujar dia.

Mengutip dari Reuters, laboratorium ini juga akan mengembangkan algoritma yang bisa mendeteksi kondisi lalu lintas di Asia Tenggara. Bahkan, anomali seperti kemacetan akibat kecelakaan juga akan dideteksi secara real time. Selain itu, penelitian ini fokus meningkatkan keselamatan berkendara.

(Baca juga: Usul Kemenhub Agar Pengemudi Ojek Online Tak Demo Saat Asian Games)

Adapun Grab memeroleh kucuran investasi senilai US$ 1 miliar dari Toyota pada Juni 2018 lalu. Pendanaan itu juga mencakup kerja sama yang memungkinkan kedua perusahaan berbagi data.

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha