Wika Incar Proyek di Malaysia dan Filipina Senilai Rp 10 Triliun

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Safrezi Fitra

Senin 27/8/2018, 20.03 WIB

Ada dua proyek yang diincar Wika, yakni renovasi 6 bandara Filipina senilai Rp 6 triliun dan jalan Trans Serawak (Malaysia) senilai Rp 4 triliun

Gedung Wika
Katadata
Gedung Wika di kawasan Jalan DI Panjaitan, Jakarta.

PT Wijaya Karya (Wika) tengah mengincar beberapa proyek infrastruktur di negara tetangga, yakni Malaysia dan Filipina. Saat ini perusahaan pelat merah tersebut sedang melakukan penjajakan atas proyek senilai total Rp 10 triliun di dua negara tersebut.

Direktur Operasi 3 WIKA Destiawan mengatakan ada dua proyek yang diincar. Di Filipina adalah proyek renovasi dan pengembangan 6 bandara dengan nilai kontrak sekitar Rp 5-6 triliun. Sementara di Malaysia, proyek pembangunan Trans Serawak senilai total Rp 4 triliun.

Dia menjelaskan Pemerintah Filipina menawarkan skema kerja sama yaitu pembangunan yang melibatkan pihak swasta alias Public Private Partnership (PPP). Targetnya, penjajakan kontrak baru ini akan menemui kata sepakat pada tahun ini dan pembangunan fisiknya bisa dimulai tahun depan.

(Baca: BUMN Indonesia Akan Pasok Kereta dan Bangun Tol di Filipina)

“Mereka ingin transportasi udaranya berjalan baik seperti (bandara) di tempat kita. Ada 6 bandara yang mereka tawarkan, kami sedang menjajaki mana yang bagus traffic-nya,” kata Destiawan di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (27/8).

WIKA juga tengah melakukan penjajakan dengan pemerintah Malaysia dalam pembangunan jalan tol Trans Serawak. Targetnya, penandatanganan kontrak proyek tersebut bisa dilakukan pada tahun ini, sehingga tahun depan bisa mulai pembangunan secara fisik.

“Jadi highway sepanjang negara bagian Serawak itu. Tahun ini target kontraknya, fisiknya tahun depan jalan. Mereka rencananya proses pembangunan (memakan waktu) 3-4 tahun,” kata Destiawan.

Sepanjang enam bulan pertama tahun ini, WIKA baru membukukan kontrak sebesar Rp 1,1 triliun. Terbaru, mereka mendapatkan kontrak senilai Rp 370 miliar dalam pembangunan Istana Kepresidenan Nigeria. Sejauh ini, perusahaan plat merah ini telah mengantongi kontrak baru sebesar Rp 23,45 triliun di seluruh lini bisnis perusahaan. Catatan tersebut memenuhi 40,36% dari target kontrak baru hingga 2018 yang sebesar Rp 58,11 triliun. 

(Baca: Sri Mulyani Sebut Penyebab Obligasi Komodo WIKA Diborong Asing)

Direktur Utama WIKA Tumiyana mengatakan capaian perusahaan hingga minggu ketiga bulan Agustus ini sudah sesuai target. "Proyek-proyek dengan nilai kontrak tinggi, biasanya dimulai pada Semester II-2018 sehingga peluang WIKA untuk memperoleh proyek tersebut juga akan semakin besar," ujarnya.

Capaian terbesar kontrak baru, datang dari sektor infrastruktur dan gedung dengan raihan kontrak sebesar Rp 17,44 triliun dan sektor industri sebesar Rp 4,63 triliun. Sektor energi dan industrial plant, berkontribusi pada kontrak baru sebesar Rp 725,59 miliar dan Rp 657,23 miliar disumbangkan oleh sektor properti.

Menurut Tumiyana, WIKA tidak lagi mengandalkan proyek dari pemerintah. WIKA akan lebih aktif memperluas pasar konstruksi melalui sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta. Komposisi kepemilikan proyek, sinergi BUMN menyumbangkan kontrak sebesar 37,58%. Sedangkan, kontrak baru dari swasta sebesar 37,57%. Sementara, kontrak baru yang diraih WIKA dari pemerintah hanya 24,85%.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha