Tekan Kredit Macet, Fintech Berbagi Data Nasabah Nakal

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

Kamis 30/8/2018, 16.48 WIB

Dengan begitu, nasabah yang kreditnya bermasalah di satu perusahaan tak akan dilayani di fintech lain.

Fintech
Arief Kamaludin | Katadata

Beberapa perusahaan financial technology (fintech) pinjam-meminjam mulai berbagi data nasabah nakal. Dengan begitu, nasabah yang kreditnya bermasalah di satu perusahaan tak akan dilayani di fintech lain.

Langkah ini diharapkan dapat menekan risiko kredit macet pada fintech. Secara tak langsung, langkah ini juga diharapkan dapat menekan tingkat suku bunga fintech.

"Beberapa perusahaan sudah pilot project (bertukar data). Untuk menciptakan sistem sharing ini kan tidak mudah, ada pertimbangan supaya sistemnya aman dan andal," ujar Direktur Asosiasi Fintech (Aftech) Ajisatria Sulaeman saat diskusi di Kantor UangTeman, Jakarta, Kamis (30/8).

Besaran bunga kredit fintech kerap dikeluhkan karena jauh lebih tinggi ketimbang perbankan. Padahal, menurut Ajisatria, perusahaan harus memperhitungkan risiko kredit macet, karena proses pencairan kredit fintech lebih mudah dan cepat.

(Baca juga: Fintech Lending Diklaim Sumbang Rp 26 Triliun ke PDB Indonesia)

Ketua Bidang Pinjaman Cash Loan Aftech Sunu Widyatmoko menambahkan, tingginya risiko fraud memang dibebankan kepada peminjam dalam bentuk biaya atau bunga. Skema ini disebut dengan burden industry. Supaya bunga ini turun, industri harus menurunkan risiko fraud.

Caranya, bisa dengan mengakses data peminjam dan pemberi pinjaman di Direktorat Jenderal (Ditjen) Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) serta Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) di Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Kami juga harus bisa melapor ke SLIK, si A dan B fraud di kami. Jangan sampai mereka berpikir bisa mengambil pinjaman di tempat lain," ujarnya.

Sementara itu, CEO dan Founder UangTeman Aidil Zulkifli menyampaikan, besarnya biaya untuk menganalisa profil peminjam dan risiko fraud menjadi penyebab biaya tinggi. Menurutnya, kondisi ini berbeda dengan perbankan yang infrastrukturnya sudah terbangun selama bertahun-tahun. "Infrastruktur itu belum terwujud di fintech," kata dia.

Oleh karenanya, ia mendukung supaya perusahaan di industri ini saling bertukar data peminjam yang berniat buruk. "Ini satu inisiatif membina basis data untuk bertukar data fraud. Kami bangun infrastruktur ini," kata Aidil.

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha