Kisruh Berjilid-jilid Impor Beras yang Berujung “Perang” Menteri

Penulis: Ekarina

Editor: Muchamad Nafi

22/9/2018, 07.00 WIB

Keputusan impor diambil dalam rapat-rapat terbatas tingkat menteri di Kementerian Koordinator Perekonomian. Selalu saja ada beda pendapat sesudahnya.

Ilustrasi Beras Bulog
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA
Aktifitas Kegiatan Raskin BULOG. Operasional Pergudangan, Perawatan, dan Penyaluran Raskin di Gudang Beras Bulog Kelapa Gading, Jakarta, Selasa, (30/09/2014). Setiap gudang Bulog dapat menampung 3500 Ton karung beras dengan total gudang sebanyak 60 buah khusus penyimpanan beras.

Impor beras kembali ramai diperbincangkan. Bahkan, rencana datangnya dua juta ton beras itu memicu perang kata di antara pejabat negara, terakhir dipanaskan oleh beda sikap antara Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita dan Direktur Utama Bulog Budi Waseso.

Hingga saat ini, realisasi impor beras sudah sekitar 1,8 juta ton. Ini bagian dari izin yang telah diteken tig kali. Pada tahap satu dan dua, masing-masing sebesar 500 ribu ton diterbitkan pada Januari dan Maret 2018. Adapun satu juta lagi diterbitkan pada Juli dengan waktu kedatangan hingga September tahun ini.

Keputusan impor diambil dalam rapat-rapat terbatas tingkat menteri di Kementerian Koordinator Perekonomian. Perum Bulog ditunjuk sebagai eksekutornya. Namun suara sumbang selalu muncul di arena terbuka setelah kebijakan ini diputuskan, terutama antara Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Bulog.

27 Agustus 2017

Wakil Presiden Jusuf Kalla menyatakan ada indikasi kerawanan pangan, khususnya beras dengan parameter stok beras di gudang Bulog di bawah satu juta ton serta kenaikan harga beras 10 persen di tingkat konsumen. Indikasi kenaikan ini direspons melalui peraturan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Awal Januari 2018

Data Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) menunjukkan pasokan beras pada Januari 2018 hanya 30 ribu ton, menurun dibandingkan Januari 2017 sebesar 34 ribu ton. PIBC mencatat harga rata-rata satu kilogram beras Rp 11.400, lebih tinggi dari Januari 2017 yang hanya Rp 9.600.

Pada waktu bersamaan, stok beras Bulog 903 ribu ton, turun dari posisi akhir 2017 sebanyak 978 ribu ton. Persediaaan ini dinilai tidak mencukupi kebutuhan masyarakat per bulan yang diperkirakan 2,3-2,4 juta ton. Itu berarti, stok beras pada Januari tidak memenuhi konsumsi 10 hari.

(Baca : Menko Darmin Paparkan Kronologi Heboh Impor Beras Bulog vs Mendag)

9Januari 2018

Jusuf Kalla membuka peluang impor beras jika harga komoditas itu semakin naik.

11 Januari 2018

Menteri Pertanian Amran Sulaiman berkeras bahwa masa panen padi akan dimulai pada Februari. Banjir yang terjadi akibat siklon tropis pada akhir 2017 hanya merusak sekitar 40 ribu hektare dari total 400 ribu hektare ladang padi di Jawa.

15 Januari 2018

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memimpin Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) untuk membahas situasi terkait data stok dan harga beras. Rapat dihadiri Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Deputi Kementerian BUMN Bidang Industri Agro dan Farmasi Wahyu Kuncoro, serta Direktur Utama Bulog saat itu, Djarot Kusumayakti. Hasilnya, diputuskan impor beras 500 ribu ton.

25 Januari 2018

Kementerian Pertanian merilis data proyeksi produksi beras 13,7 juta ton dalam tiga bulan: produksi Januari 2,5 juta ton, Februari 4,7 juta ton, dan Maret 6,5 juta ton. Dengan proyeksi itu, pemerintah meminta Bulog menyerap 2,2 juta ton beras hingga akhir Juni dalam panen raya.

19 Maret 2018

Stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) milik Bulog minus 27 ribu ton. Persediaan beras medium dan premiun pada Bulog hanya 590 ribu ton. Artinya, tidak ada penambahan pasokan beras seperti yang diproyeksikan Kementerian Pertanian. Apalagi, impor 500 ribu ton yang direncanakan tiba pada Februari belum terealisasi.

Penyerapan Bulog juga masih rendah pada triwulan pertama 2018 dengan volume 247 ribu ton, jauh lebih rendah dibandingkan triwulan pertama 2017 yang mencapai 478 ribu ton. Atas pertimbangan itu, pemerintah kembali menerbitkan impor beras 500 ribu.

Reporter: Michael Reily dan Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan