Rupiah Melemah, Produsen Makanan Tahan Kenaikan Harga hingga 2019

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

Rabu 3/10/2018, 14.08 WIB

Produsen makanan minuman masih akan menahan kenaikan harga hingga tahun depan untuk menjaga daya beli masyarakat.

Pabrik minuman
Arief Kamaludin|KATADATA

Depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sejak kemarin  kembali  melemah hingga menembus Rp 15.000. Namun pelemahan nilai tukar tak segera direspon produsen makanan minuman dengan menaikan harga jual barang. 

Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) menyatakan beberapa produsen masih akan berupaya menahan kenaikan harga sebesar 5% hingga awal tahun depan, meski hal itu akan mengorbankan keuntungan perusahaan.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

 “Atas permintaan pemerintah kami sementara tidak naikkan harga sampai awal tahun depan,” kata Ketua Umum Gapmmi Adhi S.Lukman di Jakarta, Rabu (3/10).

Selain itu, perusahaan juga sulit menaikan harga jual karena untuk menjaga daya beli masyarakat. (Baca : Perusahaan Barang Konsumsi Rentan Terdampak Pelemahan Rupiah)

Menurutnya,  pelemahan nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) akan mendorong peningkatan biaya produksi. Meski beberapa produsen biasanya memiliki stok bahan baku. Namun menurutnya hal itu  hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan produksi hingga sebulan atau dua minggu jika sudah berbentuk produk jadi.

Dia juga  menjelaskan yang terdampak besar jika rupiah terus melemah yakni kalangan  industri kecil serta industri rumah tangga lantaran terbatasnya modal. 

Meski demikian, pelemahan itu bisa disiasati dengan berinovasi pada segi kemasan untuk menekan biaya produksi misalnya dengan merubah kemasan susu kaleng menjadi kemasan plastik karton atau plastik atau bahkan dengan memperkecil ukuran produk.

Dengan segala upaya tersebut, Gapmmi  tetap berharap pertumbuhan industri makanan  minuman tahun ini tetap berada di kisaran 8% sampai 9%, lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi. (Baca : Margin Perusahaan Makanan Minuman Menyusut seiring Pelemahan Rupiah)

Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan, Direktorat Jenderal Industri Agro, Kementerian Perindustrian, Enny Ratnaningtyas, mengatakan  industri makanan dan minuman masih memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor  porsi sebesar 70%. “Pasti terasa, tetapi kami harap harga produk jangan naik dulu,” kata Enny.

Dia berharap industri skala kecil bisa berinovasi dalam menekan ongkos produksi. Tujuannya, supaya tidak terjadi kerugian jangka panjang baik seperti berhentinya proses produksi pabrik.