Kekhawatiran Perang Dagang Picu Aksi Jual Besar di Bursa Saham Global

Penulis: Martha Ruth Thertina

Kamis 11/10/2018, 11.25 WIB

Saham emiten pemilik Louis Vuitton hingga Gucci turun tajam seiring kekhawatiran atas tindakan tegas Tiongkok terhadap barang impor yang tidak diumumkan.

bursa saham new york
ANTARA FOTO/REUTERS/Andrew Kelly
Pedagang saham bekerja di lantai bursa di New York Stock Exchange (NYSE) di Manhattan, New York City, Amerika Serikat, Rabu (21/12).

Bursa saham Asia berguguran pada perdagangan Kamis (11/10), mengekor pelemahan di bursa saham Eropa dan Amerika Serikat (AS). Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat anjlok 2,6% di awal perdagangan. Kejatuhan indeks saham global terjadi seiring kekhawatiran seputar dampak baru perang dagang As-Tiongkok.

Saat berita ini ditulis, indeks Nikkei 225 dan Topix di Jepang anjlok masing 4,10% dan 3,55%, Hang Seng di Hong Kong merosot 3,76%, dan CSI 300 di Tiongkok turun 4%. Sementara itu indeks di negara-negara berkembang yang tercermin dari MSCI AC Asia Pacific tercatat stabil. Secara khusus, indeks harga saham gabungan (IHSG) turun 1,7% ke level 5.721. Posisi ini membaik dibandingkan awal perdagangan yang sempat turun ke level 5.669 alias anjlok 2,6%.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Sebelumnya, bursa saham Eropa dan Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan tajam. Euro Stoxx 50 Pr ditutup turun 1,65%, FTSE 100 turun 1,27%, Dax turun 2,21%. Di sisi lain, Dow Jones ditutup anjlok 3,15%, S&P 500 turun 3,29%, dan Nasdaq anjlok 4,08%.

Seiring kondisi tersebut imbal hasil (yield) Us Treasury tenor 10 tahun melonjak ke level tertingginya dalam tujuh tahun belakangan. Yield sempat menembus 3,26% atau yang terlemah dalam tujuh tahun belakanga, sebelum melandai hingga turun ke posisi saat ini 3,15%. Di sisi lain, mata uang dolar AS menguat atas mayoritas mata uang Asia. Won Korea Selatan, dolar Taiwan, dan rupiah terdepresiasi paling besar yakni masing-masing 0,90%, 0,50%, dan 0,43%.

Mengutip Bloomberg, kekhawatiran investor barang mewah terhadap tindakan tegas di perbatasan Tiongkok untuk barang impor yang tidak diumumkan turut berkontribusi terhadap maraknya aksi jual (sell off) di bursa saham pada perdagangan Rabu (10/11). Kekhawatiran mengemuka setelah adanya konfirmasi dari perusahaan fashion premium Moët Hennessy Louis Vuitton SE (LVMH) bahwa pemerintah Tiongkok melakukan pemeriksaan terhadap turis lokal yang kembali dari perjalanan luar negeri.

Saham dari perusahaan pemilik Louis Vuitton, Christian Dior dan Dom Perignon Champagne tersebut anjlok 7,1% di Paris. Sementara itu, Perusahaan pemilik Gucci, Kering SA, dan induk usaha Cartier yaitu Richemont. U.S. jeweler Tiffany & Co. anjlok 10% di New York. “Pemerintah Tiongkok tengah memperkuat beberapa aturan saat ini,” kata Chief Financial Officer Jean-Jacques Guiony, seperti dikutip Bloomberg.

Di dalam negeri sendiri, selain imbas pergerakan di bursa global, pelemahan indeks terjadi setelah adanya ketidakpastian terkait kenaikan harga premium menyusul kenaikan Pertamax. Adapun keputusan PT Pertamina (Persero) menaikkan harga Pertamax disebut sebagai sentimen positif yang mengerek laju IHSG pada perdagangan Rabu (10/10) kemarin. Saham di sektor pertambangan tercatat sebagai salah satu yang menopang kenaikan indeks. (Baca juga: Kenaikan Pertamax Jadi Sentimen Positif, IHSG Melanjutkan Kenaikan)