Saat Rapat IMF, 19 Proyek Infrastruktur BUMN Resmi Dapat Dana Rp 200 T

Penulis: Hari Widowati

Kamis 11/10/2018, 16.30 WIB

Proyek terbesar yang ditandatangani adalah proyek pabrik naptha cracker senilai US$ 6,5 miliar antara PT Pertamina dan CPC Corporation, Taiwan.

infrastruktur
Arief Kamaludin|KATADATA

Sebanyak 19 proyek infrastruktur milik 15 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berhasil mendapatkan pendanaan US$ 13,5 miliar atau sekitar Rp 200 triliun dari perbankan lokal dan investor global. Proyek terbesar yang ditandatangani dalam kesepakatan tersebut adalah proyek pabrik naptha cracker senilai US$ 6,5 miliar atau Rp 97,5 triliun antara PT Pertamina (Persero) dan CPC Corporation, Taiwan.

Menteri BUMN Rini Soemarno mengatakan, Kementerian BUMN bersama Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memaksimalkan Rapat Tahunan Dana Moneter Internasional (IMF)-Bank Dunia untuk membuka kerja sama di bidang infrastruktur. "Skema kerja sama strategis (strategic partnership) hampir mencapai 80% dari total pembiayaan yang diberikan," kata Rini dalam Penandatanganan Kerja Sama Investasi dan Pembiayaan Infrastruktur di Hotel Inaya, Nusa Dua, Kamis (10/10).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Pembiayaan dan kerja sama yang dilakukan BUMN dengan perbankan dan korporasi global itu mencakup sektor minyak dan gas (migas), hilirisasi pertambangan, bandara, hingga pariwisata. Penandatanganan kesepakatan ini merupakan hasil dari pertemuan Indonesia Infrastructure Forum 2018 yang merupakan kegiatan yang paralel dengan Rapat Tahunan IMF-Bank Dunia di Bali. 

(Baca: Kembangkan Mandalika, EBD Paragon Investasi Rp 1,6 Triliun)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, keberhasilan BUMN mendapatkan mitra strategis dan pembiayaan untuk proyek-proyek infrastruktur patut diapresiasi. Upaya ini sejalan dengan Rapat Tahunan IMF-Bank Dunia di Bali. Di tengah gejolak ekonomi dunia yang disebabkan normalisasi kebijakan moneter negara-negara maju maupun kenaikan harga minyak mentah dunia, perekonomian Indonesia di sektor riil tetap solid.

"Memang perlu beberapa penyesuaian untuk menjawab gejolak yang terjadi akhir-akhir ini. Kita sudah membangun single submission untuk perizinan, kita berikan insentif pajak, pelaksanaan B20, dan masih banyak lagi yang akan dilakukan dalam minggu-minggu mendatang," ujar Darmin. Pemerintah bertekad akan meneruskan pembangunan infrastruktur dan pembangunan di sektor-sektor lainnya, termasuk peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) agar pembangunan lebih berkualitas.

Berikut ini adalah daftar kerja sama dan pembiayaan yang ditandatangani:
1. Kerja sama strategis senilai US$ 400 juta antara PT GMF AeroAsia Tbk dan Airfrance Industries serta KLM Enginering & Maintenance
2. Kerja sama senilai US$ 500 juta antara GMF AeroAsia dan China Communications Contruction Indonesia
3. Peluncuran penawaran kerja sama strategis Bandara Kualanamu oleh PT Angkasa Pura II (Persero) kepada investor, senilai hingga US$ 500 juta
4. Kerja sama strategis senilai US$ 100 juta antara PT Pindad (Persero) dan Waterbury Farrel
5. Kerja sama strategis senilai US$ 320 juta antara PT Aneka Tambang Tbk dan Ocean Energy Nickel International Pty Ltd
6. Kerja sama strategis senilai US$ 850 juta antara PT Inalum (Persero), Antam, dan Aluminium Corporation of China Limited
7. Kerja sama senilai US$ 500 juta antara PT KAI (Persero), PT INKA (Persero), dan Progress Rail (Caterpillar Group)
8. Kerja sama senilai US$ 185 juta antara PT Boma Bisma Indra (Persero) dan Doosan Infracore serta Equitek
9. KIK-Dinfra senilai US$ 112 juta oleh PT Jasa Marga dan Bank Mandiri serta pernyataan efektif OJK
10. RDPT PT Jasa Marga dan Bank Mandiri serta AIA, Taspen, Wana Artha, Allianz, dan Indonesia Infrastruktur Finance (IIF) senilai US$ 224 juta
11. Kerja sama investasi senilai US$ 6,5 miliar antara PT Pertamina (Persero) dan CPC Corporation
12. Kerja sama investasi senilai 150 juta euro antara PLN dan KfW
13. Kredit investasi senilai US$ 523 juta dari Bank Mega kepada PT Hutama Karya (Persero) untuk pembangunan ruas tol Pekanbaru-Dumai
14. Monetisasi aset senilai US$ 336 juta oleh PT Hutama Karya dengan ICBC, MUFG, Permata Bank, dan SMI
15. Kredit sindikasi US$ 684 juta kepada PT Hutama Karya dari Bank Mandiri, BRI, BNI, CIMB Niaga dan SMI
16. Investasi senilai US$ 310 juta antara Menjangan Group, ITDC, dan Amorsk Group
17. Investasi senilai US$ 198 juta antara PT Wijaya Karya (Persero), ITDC, dan Menjangan Group
18. Kerja sama pembiayaan proyek Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Mandalika antara ITDC dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) senilai US$ 248 juta
19. Kerja sama hedging nilai tukar berbasis syariah senilai US$ 128 juta antara PT SMI dan Maybank Indonesia

 (Baca: Ingin Go International, 3 BUMN Kereta Gandeng Perusahaan Eropa)