Dana Asing Masuk SUN Rp 23 T, Gubernur BI Sebut Buah Kenaikan Bunga

Penulis: Rizky Alika

Editor: Martha Ruth Thertina

Jum'at 26/10/2018, 22.45 WIB

Arus keluar dana asing masih terjadi di pasar saham. Sepanjang tahun, investor asing membukukan penjualan bersih Rp 56,41 triliun.

dolar 1.jpg
KATADATA/ Arief Kamaludin

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan arus masuk dana asing (capital inflow) ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) mencapai Rp 22,97 triliun dari awal tahun hingga 25 Oktober 2018 (year to date). Perkembangan ini dinilainya sebagai buah dari kenaikan suku bunga acuan.

"Kenaikan bunga acuan yang kami lakukan selama ini tujuannya agar daya tarik aset keuangan Indonesia itu tetap menarik aliran modal asing masuk," kata dia di kantornya, Jakarta, Jumat (26/10). Secara rinci, sepanjang satu minggu, arus masuk dana asing ke SBN sebesar Rp 9,09 triliun, atau selama kalender bulanan (month to date) sebesar Rp 8,26 triliun. 

Meski begitu, arus keluar dana asing (capital outflow)  masih terjadi di pasar saham. Mengacu pada data RTI per 26 Oktober, investor asing mencatatkan penjualan bersih (net sell) sebesar Rp 326 miliar sepanjang satu minggu, sebesar Rp 5,67 triliun dalam satu bulan, dan mencapai Rp 56,41 triliun sepanjang tahun ini (year to date). "Ini terkait perkembangan ekonomi global, khsusnya indeks harga saham di AS," ujarnya.

(Baca juga: Rupiah 15.000 per Dolar AS, Pemerintah Disarankan Tahan Dividen Asing)

Adapun masuknya dana asing bisa menambah pasokan valuta asing di dalam negeri sehingga membantu stabilisasi kurs rupiah. Selain dari dana asing ke pasar keuangan, Perry menyebut pasokan valas juga terbantu oleh korporasi dan perbankan. “Ada juga perbankan korporasi yang terus berkontribusi sehingga mekanisme supply demand di pasar valas (berjalan),” ujarnya.

(Baca juga: Pengusaha Targetkan 40% Dolar Hasil Ekspor Dikonversi ke Rupiah)

Ia menilai arus masuk dana asing menunjukkan kepercayaan investor global terhadap ekonomi Indonesia, baik makro maupun sektor riil, serta langkah-langkah koordinasi yang dilakukan BI dan pemerintah dalam menetapkan kebijakan fiskal dan menurunkan defisit transaksi berjalan.

Sepanjang tahun ini, BI telah menaikkan bunga acuan sebanyak 150 basis poin ke level 5,75%. Keputusan tersebut merespons kenaikan bertahap bunga acuan Amerika Serikat (AS). Selain untuk menjaga daya tarik pasar keuangan domestik, kenaikan bunga acuan juga untuk membantu menekan defisit transaksi berjalan. 

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha