Laporan Awal KNKT, Hidung Pesawat PK-LQP Naik Turun Sebelum Jatuh

Penulis: Ameidyo Daud

Editor: Hari Widowati

Rabu 28/11/2018, 14.39 WIB

"Trim (pengendali) merekam hidung pesawat naik kemudian diturunkan, dan pergerakan berhenti," kata Nurcahyo Utomo.

Lion Air Jatuh
Ajeng Dinar Ulfiana|KATADATA.
Empat warga asal Amerika yang merupakan anggota Boeing dan anggota KNKT lainnya sedang mengindentivikasi Kecelakaan Pesawat Lion Air JT 610 di Jakarta International Container Terminal (JICT) II, Tanjung Priok, Jakarta Utara (31/10). Boeing selaku pabrikan pembuat pesawat B737 MAX 8 menyediakan bantuan teknis untuk penyelidikan jatuhnya pesawat Lion Air penerbangan JT 610.

 

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membeberkan laporan awal jatuhnya pesawat Lion Air dengan nomor lambung PK-LQP di Laut Jawa tepat sebulan lalu. Laporan awal ini menyebutkan, sesaat sebelum kecelakaan, pesawat Lion Air  mengalami kejadian hidung naik dan turun setelah sirip sayap (flaps) dinaikkan.

Hal tersebut dilaporkan KNKT berdasarkan data Flight Data Recorder (FDR) dan keterangan lain yang dikumpulkan. Laporan KNKT menyebutkan trim atau kendali pesawat membuat hidung pesawat turun atau Aircraft Nose Down (AND). Kondisi ini direspons dengan input pilot untuk menaikkan hidung pesawat atau Aircraft Nose Up (ANU). Namun ketika sirip pesawat dinaikkan hidung pesawat kembali menukik turun sehingga pilot berusaha menaikkan hidung pesawat. Bahkan, kejadian turunnya hidung berlangsung berkali-kali dan diikuti respons pilot untuk menaikkan pesawat.

"Trim (pengendali) merekam hidung pesawat naik (ANU) kemudian diturunkan, dan pergerakan berhenti," kata Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo saat konferensi pers di Jakarta, Rabu (28/11).

(Baca: KNKT Juga Temukan Masalah pada Indikator Angle of Attack PK-LQP)

Selain itu, Nurcahyo menyebut ada perbedaan sensor Angle of Attack (AoA) sebesar 20 derajat pada bagian kiri dan kanan pesawat tersebut. Dia menyebutkan, hal ini terjadi dari awal penerbangan hingga pesawat hilang kontak.

"Sebelum tinggal landas juga terjadi stick shaker pada control column. Ini peringatan pesawat (berpotensi) stall, tapi stick shaker terjadi di setiap penerbangan," katanya.

Hal ini menyusul hal yang terjadi pada penerbangan hari Minggu (28/10). KNKT mencatat saat penerbangan PK-LQP dari Denpasar ke Jakarta, hidung pesawat mengalami penurunan secara otomatis. Namun saat itu Pilot in Charge (PiC) melanjutkan penerbangan dengan kontrol manual tanpa auto pilot. "Kapten juga menyatakan PAN PAN karena kegagalan instrumen dan meminta tidak berbelok tapi terbang lurus mengikuti landasan," ujar Nurcahyo.

Pilot penerbangan lantas melapor masalah yang terjadi kepada teknisi dan menuliskan Indicated Airspeed (IAS) dan ALT Disagree dan lampu FEEL DIFF PRESS (Feel Differential Pressure) di Logbook. Teknisi lantas membersihkan Air Data Module (ADM) dan static port kiri untuk memperbaiki IAS-ALT Disagree. Langkah itu diakhiri tes operasional darat dengan hasil tak ada masalah. "Pilot juga melapor ke manajemen terkait adanya masalah ini," kata Nurcahyo.

(Baca: Kecelakaan JT-610, Menhub Siapkan Sanksi bagi Lion hingga Boeing

 

Reporter: Ameidyo Daud

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha