Rupiah Tembus 14.200 per Dolar AS, Terus Pimpin Penguatan di Asia

Penulis: Martha Ruth Thertina

Jum'at 30/11/2018, 14.37 WIB

"(BI) melihat ruang yang masih besar bagi penguatan (nilai tukar rupiah) lebih lanjut,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah.

Rupiah
Arief Kamaludin|KATADATA

Nilai tukar rupiah terus menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Nilai tukar rupiah sempat menyentuh level 14.276 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot, Jumat (30/11) siang. Ini artinya penguatan mencapai Rp 336 dalam sepekan.

Kinerja rupiah juga termasuk yang terbaik di antara mata uang Asia lainnya. Pada perdagangan Jumat ini, rupiah kembali memimpin penguatan. Saat berita ini ditulis, rupiah berada di level 14.296 per dolar AS atau menguat 0,6% dibandingkan posisi penutupan hari sebelumnya.

Sementara itu, mata uang Asia lainnya menguat kurang dari 0,3% terhadap dolar AS, sedangkan won Korea Selatan dan ringgit Malaysia justru melemah masing-masing 0,12% dan 0,08%.

Direktur Eksekutif Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah menjelaskan dua faktor global utama yang menekan nilai tukar rupiah sepanjang April hingga September, sudah lebih kondusif saat ini. Dua faktor global yang dimaksud yakni ekspektasi kenaikan bunga acuan AS dan memanasnya tensi perang dagang.  

(Baca juga: Menko Darmin Lihat Potensi Relokasi Bisnis dari Tiongkok ke Indonesia)

Pernyataan Gubernur bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell bahwa bunga acuan AS sedikit di bawah kisaran “neutral” menambah keyakinan pelaku pasar bahwa tren kenaikan bunga acuan AS sudah mendekati akhir. “Setelah kenaikan di bulan Desember nanti, pasar memperkirakan hanya ada satu kali kenaikan di tahun 2019,” kata Nanang, Kamis (29/11).

Di sisi lain, pelaku pasar semakin optimistis terkait isu perang dagang. Hal itu seiring dengan akan berlangsungnya negosiasi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada pertemuan G20.

Selain dua faktor global tersebut, Nanang menyebut faktor positif lainnya yang mendorong penguatan kurs rupiah yakni merosotnya harga minyak dunia. Harga minyak dunia yang telah menyentuh US$ 50 per barel dapat mengurangi tekanan pada defisit neraca perdagangan migas Indonesia ke depan.

(Baca juga: Hitung Ulang Harga BBM di Tengah Anjloknya Harga Minyak Dunia)

Adapun berbagai faktor tersebut mendorong kembali masuknya dana asing ke pasar Surat Berharga Negara (SBN). Nanang mencatat, dana asing ke SBN mencapai Rp 31,8 triliun sepanjang November dan mencapai Rp 63 triliun sepanjang tahun.  

“Bank Indonesia mencermati dampak dari dinamika global tersebut terhadap penguatan rupiah, dan melihat ruang yang masih besar bagi penguatan lebih lanjut,” kata dia. Penguatan nilai tukar rupiah saat ini dianggapnya masih cukup wajar lantaran sebelumnya rupiah sempat melemah cukup tajam.

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha