Terdaftar di OJK, Fintech Danamart Fokus Garap Pasar UMKM

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

30/11/2018, 09.42 WIB

Danamart targetkan penyaluran kredit sebesar Rp 100 miliar pada 2019.

Pameran fintech
Katadata

Perusahaan financial technology (fintech) pinjam-meminjam PT Dana Aguna Nusantara atau Danamart baru saja berstatus terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 28 November lalu. Danamart ingin fokus menggarap pasar Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

CEO dan Co-Founder Danamart Patrick Gunadi menyampaikan, perusahaannya siap menawarkan beberapa produk kepada peminjam UMKM. Produk tersebut di antaranya adalah pembayaran tagihan (invoice financing) dan pemesanan terlebih dulu (purchase order financing).

"Kami optimistis dengan dukungan infrastruktur sistem teknologi yang mumpuni, Sumber Daya Manusia (SDM) yang terlatih, serta manajemen berpengalaman di bidang keuangan, dapat berkontribusi terhadap perkembangan UMKM di Indonesia,” ujarnya dalam siaran pers, Kamis (29/11).

(Baca juga: Lewat Finmas, Pendiri Skype Jajal Pasar Fintech Indonesia)

Patrick yakin, layanannya bakal diterima masyarakat. Apalagi, masih ada selisih (gap) pendanaan bagi Usaha Kecil dan Menengah (UKM) sebesar Rp 800 triliun. Pasar ini lah yang ingin digarap oleh Danamart. 

Grafik:

Untuk itu, ia menargetkan penyaluran kredit mencapai Rp 100 miliar pada 2019. Adapun UMKM dapat mengajukan pinjaman mulai dari Rp 100 juta hingga Rp 2 miliar dengan bunga harian 0,2% yang berlaku sampai 60 hari ke depan.

Danamart juga menyediakan asuransi kredit. Hal itu bertujuan untuk memberi kenyamanan bagi pemberi pinjaman (borrower) dalam berinvestasi. "Jika terjadi gagal bayar, asuransi kredit akan menjamin 90% dari total kredit untuk mengembalikan dana ke pendana," kata dia.

(Baca juga: Platform Investasi Tanamduit Kantongi Modal Rp 43,5 Miliar)

Ia opimistis, kerja sama dengan asuransi kredit bakal membuat Danamart tumbuh optimal dan dapat melayani masyarakat yang belum terakses perbankan (unbanked) di Indonesia. “UMKM saat ini banyak dihadapkan oleh fenomena susahnya mendapat modal atau pinjaman," ujarnya.

Sejalan dengan hal itu, ia pun membangun teknologi yang memungkinkan penilaian kredit (credit scoring) menjadi lebih tepat. "Kami melakukan screening ketat pada scoring,” ujar Patrick.

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha