Indonesia Segera Kuasai 51% Saham Freeport, Jokowi: Tinggal Bayar

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Happy Fajrian

Senin 3/12/2018, 15.29 WIB

Inalum sudah memiliki dana yang dibutuhkan untuk mengakuisisi 51% saham Freeport dengan menerbitkan global bond pada awal November 2018.

Freeport Inalum
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Menteri ESDM Ignasius Jonan (kiri), Menteri Keuangan Sri Mulyani (kedua kiri), Menteri BUMN Rini Soemarno (kedua kanan) dan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya (kanan) menyaksikan penandatanganan nota pendahuluan perjanjian oleh Direktur Utama PT Indonesia Asahan Aluminium Budi Gunadi (ketiga kanan) dan Presiden Direktur Freeport McMoran, Richard Adkerson (kedua kiri) terkait pokok-pokok kesepakatan divestasi saham PT Freeport Indonesia di Kantor Kemenkeu, Jakarta, Kamis (12/7).

Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) menekankan, proses divestasi 51% saham PT Freeport Indonesia oleh holding BUMN sektor tambang PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum, tinggal merampungkan proses pembayaran saham.

"Ya yang jelas sudah HoA (head of agreement), juga sudah Sale and Purchase Agreement, ya nanti tinggal bayarnya saja," kata Jokowi usai menghadiri acara CEO Networking 2018 di Jakarta, Senin (3/11).

Selain itu, Jokowi juga memastikan jika Inalum sudah memiliki dana yang akan digunakan untuk membayar akuisisi saham Freeport senilai US$3,85 miliar, melalui penerbitan global bond pada awal November 2018.

Inalum menerbitkan global bond senilai US$4 miliar yang dicatatkan di Amerika Serikat (AS). Mereka menawarkan bunga tinggi yaitu 5,5% hingga 7,375%. Saat itu, minat investor untuk membeli obligasi global tersebut membeludak sehingga mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) empat sampai tujuh kali lipat dari nilai penawaran.

Inalum menjual obligasi global tersebut dalam empat seri. Seri pertama dengan nilai pokok US$1 miliar memiliki tenor tiga tahun atau jatuh tempo pada 2021 dengan bunga 5,5%. Seri kedua dengan nilai pokok US$1,25 miliar bertenor lima tahun atau jatuh tempo 2023 dengan bunga 6%.

Seri ketiga dengan nilai pokok US$1 miliar memiliki tenor 10 tahun atau jatuh tempo 2028 menawarkan bunga 6,875%. Seri keempat dengan nilai pokok US$750 juta bertenor 30 tahun atau jatuh tempo 2048 dengan bunga 7,375%.

Tidak hanya untuk membayar proses divestasi, dana hasil penerbitan obligasi valas ini juga bisa digunakan untuk refinancing pinjaman yang didapatkan perseroan untuk membiayai akuisisi tersebut.

(Baca: Luhut: Presiden Ingin Papua Kuasai 10% Saham Freeport, Bukan Swasta)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha