Rudiantara Kembali Ingatkan Startup Unicorn untuk Segera IPO

Penulis: Desy Setyowati

Editor: Pingit Aria

11/1/2019, 08.15 WIB

Setelah menjadi decacorn, nilai saham mereka akan terlalu besar untuk diserap di bursa lokal.

Rudiantara
ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal
Menkominfo Rudiantara saat pembukaan Indonesia E-Commerce Expo di Indonesia Convention Exibation (ICE), Serpong, Tangerang, Banten, Selasa (9/5).

Transparansi menjadi salah satu yang dipertimbangkan startup sebelum melakukan penawaran saham perdana ke publik (Initial Public Offering/IPO). Menurut Menteri Komunikasi dan Indormatika (Kominfo) Rudiantara, semestinya hal itu tak menjadi kekhawatiran perusahaan rintisan untuk masuk bursa.

Sebab, ada banyak startup di negara lain yang melakukan IPO dan tetap dapat menyimpan kerahasiaan inovasinya. "Transparansi itu lebih banyak pada strategi umum dan keuangan. Inovasi justru disimpan. Apple dan Facebook tidak ada masalah (IPO)," ujarnya di sela peringatan ulang tahun ke-9 Bukalapak di JCC, Jakarta, Kamis (10/1) malam.

Menurutnya, transparansi tak menjadi halangan bagi startup Tanah Air untuk IPO. Ia pun mengimbau agar IPO dilakukan ketika masih berstatus startup biasa dan unicorn. "Karena pasar di dalam negeri masih bisa menyerap," kata dia. Adapun unicorn adalah startup bervaluasi lebih dari US$ 1 miliar.

Ia mencontohkan, misalnya unicorn melepas 20% sahamnya ke pasar melalui IPO, maka nilainya sekitar Rp 29 triliun. Nah, besaran nilai saham yang bakal dijual ini memurutnya masih bisa diserap investor dalam negeri.

(Baca juga: Rudiantara Desak Unicorn Segera IPO sebelum Membesar Jadi Decacorn)

Akan tetapi, bila sudah menjadi decacorn atau bervaluasi lebih dari US$ 10 miliar akan sulit. Sebab, pasar dalam negeri belum begitu dalam. "Pasar di Indonesia tidak sebesar New York, Amerika Serikat (AS) atau Tokyo, Jepang," ujarnya. "Jadi nanti listingnya di global."

Sementara itu, Presiden Bukalapak Fajrin Rasyid menyampaikan bahwa saat ini perusahaannya belum berencana untuk IPO. "Belum ada rencana konkret lah dalam waktu dekat ini. Kami masih mempelajari berbagai kemungkinannya,” kata dia.

Sebelumnya, ia sempat khawatir bila ada beberapa data yang harus dibuka ke publik jika menjadi emiten atau perusahaan terbuka (Tbk). "Perusahaan yang sudah IPO jenisnya berbeda. Yang diinformasikan juga beda. Ada yang detail sekali ada yang kurang. Kami mau tahu (data) apa saja yang dibuka," ujarnya kepada Katadata beberapa waktu lalu.

Saat ini, ada beberapa startup yang sudah melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Di antaranya PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS) yang meraih dana segar senilai Rp 45 miliar;  PT M Cash Integrasi Tbk Rp 300 miliar ; PT Distribusi Voucher Nusantara (DIVA) Rp 803 miliar; dan, PT Yeloo Integra Datanet (Passpod) Rp 49 miliar.

Reporter: Desy Setyowati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha