Kunjungi AS, Mendag Fokus Bahas Tindak Lanjut Insentif Tarif

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

14/1/2019, 11.17 WIB

Dalam kunjungan Mendag ke Amerika, pihaknya akan fokus pada pembahasan pemberian fasilitas tarif Generalized System of Preferences (GSP).

RCEP
Kemendag
Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita memimpin Delegasi RI dalam pertemuan Preparatory Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) Ministerial Meeting di Manila, Filipina, Minggu (12/11).

Pemerintah akan meminta kepastian status terkait pemberian fasilitas tarif Generalized System of Preferences (GSP) dari Amerika Serikat terhadap sejumlah komoditas asal Indonesia. Hal ini menjadi salah satu poin utama yang akan dibahas dalam kunjungan kerja Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita ke Amerika Serikat pada 14- 19 Januari 2019.

Dalam kunjungannya ke Negeri Paman Sam, Enggar juga dijadwalkan bertemu Duta Besar Perwakilan Perdagangan AS (USTR Ambassador) Robert Lighthizer untuk menindaklanjuti pemberian status GSP. Sebanyak 3.546 produk Indonesia sebelumnya mendapatkan fasilitas GSP dengan eliminasi tarif hingga 0%.

Pada 2017, pemerintah AS melalui USTR mengeluarkan penjinjauan kembali penerapan GSP terhadap 25 negara penerima, yang mana Indonesia menjadi salah satu negara yang termasuk di dalamnya. Baru pada 13 April 2018, USTR secara eksplisit menyatakan mulai melakukan peninjauan pemberian GSP kepada Indonesia, India, dan Kazakhstan. Pernyataan ini tertuang dalam Federal Register Vol. 83, No. 82. 

(Baca: AS Tolak Beri Insentif Bea Masuk untuk Panel Kayu Indonesia)

Selama tujuh bulan terakhir, pemerintah telah melakukan komunikasi dan koordinasi intensif dengan AS agar Indonesia tetap mendapatkan status dalam skema GSP. Menurutnya, GSP telah memberi manfaat tak hanya kepada eksportir Indonesia, tapi juga importir AS untuk mendapat pasokan produk yang dibutuhkan. 

"Upaya untuk meningkatkan kinerja ekspor harus dilakukan sedini dan semaksimal mungkin di tengah kondisi pelambatan pertumbuhan ekonomi global," kata Enggar dalam keterangan resmi, Ahad (13/1).

Karenanya selain bertemu dengan USTR untuk membahas pemberian status, Enggar juga akan bertemu dengan CEO Kamar Dagang dan Industri (Kadin) AS Tom Donohue dan para pelaku usaha AS, terutama yang bergerak di sektor alas kaki dan garmen; serta pertemuan dengan para calon investor potensial. Mendag juga dijadwalkan ikut menghadiri seminar kelapa sawit, menghadiri forum bisnis, dan membuka penjajakan kesepakatan bisnis.

Selain pertemuan formal, Indonesia juga akan mengadakan misi dagang untuk memaksimalkan penjualan produk Indonesia. "Kami harap pengusaha dapat bertransaksi secara langsung dan membangun bisnisnya sehingga dapat meningkatkan kinerja perdagangan kedua negara," ujar Enggar.

(Baca: Ancaman Baru Fasilitas Dagang Amerika untuk Indonesia)

Sebanyak 15 pelaku usaha yang ikut dalam kunjungan kerja adalah sektor kelapa sawit, alumunium dan baja, hasil laut, kedelai dan gandum, kapas dan tekstil, kopi, ban mobil, emas dan perhiasan, serta daging sapi.

Turut serta Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia (Aprobi), dan Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI).

Kunjungan kerja ke AS adalah salah satu strategi untuk mencapai ekspor nonmigas yang ditargetkan naik 7,5% tahun ini. Harapannya, capaian total ekspor nonmigas tahun 2019 bisa mencapai US$ 175,9 miliar.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha