Malaysia Cabut Bea Masuk Anti-Dumping, Krakatau Steel Genjot Ekspor

Penulis: Michael Reily

Editor: Ekarina

8/2/2019, 20.12 WIB

Pencabutan bea masuk anti-dumping memberi kesempatan bagi Krakatau Steel untuk meningkatkan ekspor ke Malaysia.

Baja Krakatau Steel
Agung Samosir|Katadata

Pemerintah Malaysia resmi mencabut bea masuk anti-dumping terhadap produk hot rolled coil milik PT Krakatau Steel (Persero) Tbk pada 9 Februari 2019. Kebijakan tersebut langsung direspons perseroan dengan menggenjot ekspor hingga dua kali lipat tahun ini. 

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim menargetkan ekspor baja ke Malaysia tahun ini diharapkan mencapai 500 ribu ton atau tumbuh dua kali lipat dibanding tahun lalu. "Kami akan meningkatkan ekspor ke Malaysia untuk meningkatkan ekspor nasional," kata Silmy dalam keterangan resmi, Jumat (8/2).

Keputusan Kementerian Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia menetapkan bahwa tidak ada produsen dalam negeri yang mampu menyuplai HRC sehingga pengenaan bea masuk anti-dumping tidak lagi relevan. Kebutuhan baja Malaysia mencapai 9,4 juta ton setiap tahun.

(Baca: Akuisisi Pabrik Baja, Krakatau Steel Akan Gandeng BUMN Karya)

Silmy menjelaskan kebijakan pencabutan bea masuk anti-dumping memberi kesempatan bagi Krakatau Steel untuk meningkatkan ekspor ke Malaysia. "Nilai ekspor total kami targetkan bisa mencapai sekitar US$ 200 juta atau kurang lebih 10% dari total penjualan," ujarnya.

Selain Malaysia, Australia juga diketahui tidak lagi  memperpanjang anti-dumping duty untuk produk baja Indonesia sejak akhir tahun 2018. untuk produk baja Indonesia sejak akhir Desember 2018.  Alhasil, Krakatau Steel juga akan mengincar Australia sebagai pasar potensial berikutnya.

Direktur Pemasaran Krakatau Steel Purwono Widodo mengatakan ekspor baja Krakatau Steel ke Australia tidak sebesar Malaysia. Namun, perseroan optimistis bisa meningkatkan ekspor mencapai 20 ribu ton sepanjang tahun ini atau memasok lima ribu ton per kuartal.

Selain itu, pembatasan impor baja lewat Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 110 tahun 2018 mulai berlaku pada 20 Januari 2019, juga  diharapkan bisa menjadi pendorong bertumbuhnya industri baja dalam negeri.

"Kami optimis bahwa tahun ini  perusahan dapat menaikan penjualan dan produksi baja sebesar 20%-30% dibanding tahun 2018,” kata Purwono.

(Baca: Perkuat Sektor Hulu, Krakatau Steel Operasikan Pabrik Blast Furnace)

Pada kuartal ketiga 2018,  perseroan mencatatkan peningkatan volume penjualan sebesar 14,21% dibandingkan periode yang sama tahun 2017 menjadi 1,59 juta ton. Alhasil, perseroan meraih pendapatan bersih sebesar US$ 1,27 juta atau meningkat 22,71% dibanding periode yang sama 2017.

Pada periode tersebut, penjualan baja lembaran panas dan long product tumbuh sebesar 26,20% dan 12,92% menjadi 913.619 ton dan 216.738 ton dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Reporter: Michael Reily

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha