Riset Morgan Stanley Ungkap Ketatnya Persaingan OVO dan Go-Pay

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Desy Setyowati

26/2/2019, 08.53 WIB

Dari 727 pengguna uang elektronik yang disurvei, sebanyak 73% menggunakan OVO dan 71% memakai Go-Pay.

Go-Pay
Go-Jek
Ilustrasi pembayaran melalui QR Code Go-Pay.

Hasil riset Morgan Stanley menyebutkan, financial technology (fintech) pembayaran PT Dompet Anak Bangsa (Go-Pay) dan PT Visionet Internasional (OVO) paling dikenal di Indonesia. Namun, penggunaan (use case) OVO lebih tinggi ketimbang Go-Pay.

Survei tersebut dilakukan terhadap 727 pengguna fintech pembayaran, yang berpendapatan menengah ke atas di beberapa kota di Indonesia pada Oktober 2018. Sebanyak 86% responden mengenal Go-Pay dan OVO.

Namun, sebanyak 73% responden menggunakan OVO dan 71% memakai Go-Pay. "Kami akan terus mengedukasi dan melakukan sosialisasi mengenai berbagai kelebihan bertransaksi secara non tunai," ujar Direktur OVO Harianto Gunawan kepada Katadata, Senin (25/2).

Adapun OVO sudah menggaet lebih dari 500 ribu mitra di lebih dari 300 kota di Indonesia. Harianto menyebutkan, pertumbuhan basis pengguna OVO mencapai lebih dari 400% secara tahunan (year on year/yoy).

(Baca: Dikabarkan Jadi Unicorn, OVO Fokus Tingkatkan Transaksi)

Sementara itu, Head of Corporate Communications Go-Pay Winny Triswandhani optimistis layanan pembayarannya bisa bersaing ketat. Toh, hasil riset dari Dailysocial dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Financial Times, dan YouGov pada akhir 2018 lalu menyebutkan bahwa Go-Pay paling banyak digunakan di Indonesia.

Laporan Fintech 2018 DailySocial misalnya, sebanyak 79,4% dari 1.419 responden menggunakan Go-Pay.  “Kami fokus untuk terus memperlebar jangkauan kami, agar masyarakat Indonesia dapat menikmati transaksi non tunai, termasuk piramida terbawah sekalipun,” ujar Winny.

Go-Pay sudah merangkul 300 ribu mitra yang 40% di antaranya merupakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Lalu, setengah dari transaksi di platform PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek) menggunakan Go-Pay. Gojek merupakan induk usaha Go-Pay.

(Baca: Persaingan Go-Pay dan OVO Meluas ke Sekolah hingga Kepolisian)

Setelah OVO dan Go-Pay, sebanyak 33% responden menggunakan e-Cash dari PT Bank Mandiri Tbk dan aplikasi pembayaran besutan PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), TCash. Lalu, 31% menggunakan ShopeePay dan 23% memakai BRI Mobile dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI).

Sekadar informasi, TCash, TBank dan MyQR milik BRI, e-Cash dari Bank Mandiri Tbk, serta yap! dan UnikQu dari PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) bergabung menjadi LinkAja. Layanan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan dirilis secara resmi pada 1 Maret 2019.

(Baca: Dirilis Bulan Depan, LinkAja Belum Kantongi Izin BI)

Adapun Riset Morgan Stanley menyebutkan, transaksi Go-Pay mencapai Rp 89 triliun pada 2018. Nilai tersebut melebihi transaksi atas layanan pembayaran Bank Mandiri senilai Rp 13,35 triliun, PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Rp 4,04 triliun, dan BNI Rp 880 miliar.

Sejalan dengan hal itu, Morgan Stanley memperkirakan transaksi melalui pembayaran digital di Indonesia mencapai US$ 50 miliar pada 2027. Sementara data Bank Indonesia (BI), nilai transaksi pembayaran digital menyentuh Rp 47,2 triliun pada 2018. 

Reporter: Cindy Mutia Annur

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan