Produksi Dunia Berkurang, Harga Minyak Indonesia Februari Naik 8,4%

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Safrezi Fitra

8/3/2019, 17.06 WIB

ICP Februari 2019 mencapai US$ 61,31 per barel, naik sebesar US$ 4,76 per barel dari US$ 56,55 per barel pada bulan sebelumnya.

Sumur Minyak
Chevron
Rata-rata harga minyak dunia Februari 2019 mengalami kenaikan, sehingga berdampak pada ICP

Harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) bulan Februari 2019  mencapai US$ 61,31 per barel, naik sebesar US$ 4,76 per barel atau 8,42% dari US$ 56,55 per barel pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini merupakan imbas dari pengurangan produksi negara-negara produsen minyak dunia.

Akibat berkurangnya pasokan, harga minyak internasional naik, sehingga berdampak pada harga-harga minyak produksi Indonesia. Sementara Harga Sumatran Light Crude (SLC) bulan Februari juga naik sebesar US$ 4,96 per barel dari US$ 57,46 per barel di bulan sebelumnya menjadi US$ 62,42 per barel. 

(Baca: Harga Minyak Sentuh Level Tertinggi Dalam 3 Bulan Terakhir)

Tim Harga Minyak Indonesia menyatakan perkembangan harga rata-rata minyak mentah utama di pasar internasional pada bulan Februari 2019 mengalami kenaikan.

- Dated Brent naik sebesar US$ 4,57 per barel, dari US$ 59,46 per barel menjadi US$ 64,03 per barel.
- WTI (Nymex) naik sebesar US$ 3,43 per barel, dari US$ 51,55 per barel menjadi US$ 54,98 per barel.
- Basket OPEC naik sebesar US$ 5,01 per barel, dari US$ 58,74 per barel menjadi US$ 63,75 per barel.
- Brent (ICE) naik sebesar US$ 4,19 per barel, dari US$ 60,24 per barel menjadi US$ 64,43 per barel.

Adapun kenaikan harga minyak mentah dunia disebabkan oleh beberapa faktor yaitu respon positif pasar atas kondisi pasokan minyak mentah :

  1. Tingkat kepatuhan yang tinggi negara-negara OPEC dan beberapa negara Non-OPEC dalam mengimplementasikan pengurangan produksi minyak mentah.
  2. Pernyataan Arab Saudi terkait rencana pengurangan produksi minyak mentah menjadi sebesar 9,8 juta barel per hari (bph) di bulan Maret 2019.
  3. Produksi minyak mentah dari Lapangan Safaniyah di Arab Saudi, lapangan minyak mentah offshore terbesar di dunia dengan kapasitas produksi lebih dari 1 juta barel per hari, mengalami penurunan produksi akibat terpotongnya main power cable.

Di samping itu, respons positif pasar atas potensi berakhirnya perang dagang antara Amerika Serikat dan China setelah kedua negara melakukan pertemuan kembali. Kemudian, meningkatnya permintaan produk minyak mentah dari India dan berlanjutnya kebijakan stimulus ekonomi di Tiongkok untuk mendorong pertumbuhan ekonomi negara tersebut juga penyebab peningkatan harga minyak mentah di pasar internasional.

(Baca: ICP Januari USD 56,55 Per Barel)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN