Tertekan Dalam Dua Hari, Rupiah Mendekati Rp 14.200 per dolar AS

Rizky Alika
26 April 2019, 12:34
pergerakan rupiah, perang dagang, harga minyak, dolar AS
Arief Kamaludin|KATADATA
Nilai penurunan rupiah pada perdagangan Jumat (26/4) merupakan yang terbesar kedua dibandingkan mata uang negara Asia lainnya. Posisi rupiah di pasar spot berada pada 14.192 per dolar AS atau melemah 0,04% dibandingkan penutupan perdagangan kemarin.

Nilai tukar rupiah masih tertekan dalam dua hari terakhir. Berdasarkan data Bloomberg hingga siang ini, posisi rupiah di pasar spot berada pada 14.192 per dolar Amerika Serikat (AS) atau melemah 0,04% dibandingkan pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Nilai penurunan rupiah merupakan yang terbesar kedua dibandingkan mata uang negara Asia lainnya. Pelemahan terdalam dialami oleh won Korea yang melemah 0,05%. Kemudian, diikuti oleh dolar Taiwan yang melemah tipis 0,04%.

Sementara, peso Filipina tecatat menguat 0,08%. Kemudian diikuti rupee India yang menguat 0,14%, ringgit Malaysia menguat 0,10%. Selanjutnya, yuan Tiongkok dan baht Thailand masing-masing sebesar 0,12% dan 0,16%.

(Baca: Sempat Menurun, Ekonom Ramal Rupiah Menguat di Akhir Pekan)

Seiring dengan hal tersebut, aliran dana asing di saham tercatat melakukan aksi jual sebesar Rp 1,84 triliun dalam sepekan. Sementara pada pasar pasar saham reguler, aksi jual dalam sepekan tercatat Rp 2,14 triliun.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira mengatakan ada beberapa faktor pelemahan rupiah. Salah satunya, data penjualan rumah Amerika Serikat (AS) Maret naik tertinggi dalam 1,5 tahun terakhir. "Sehingga terjadi peralihan portofolio global kembali ke AS," kata dia kepada Katadata.co.id, Jumat (26/4).

Kemudian, data laba emiten yang melantai di bursa S&P500 dan Nasdaq menunjukkan positif di atas ekspektasi. Artinya ada harapan di tengah proyeksi perlambatan ekonomi global.

(Baca: Investor Asing Jualan Saham Rp 724 M, IHSG Anjlok 1,16%)

Hal itu turut memicu investor asing mengalihkan aset ke AS dan menjual aset berdenominasi rupiah. "Dolar index terpantau meningkat 0,77% dalam sepekan terakhir ke level 98,1," ujarnya.

Selain itu, investor tengah menanti rilis data pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal I 2019, data tenaga kerja AS (non-farm payroll), dan Purchasing Managers Index (PMI) Tiongkok. Ekspektasi perang dagang yang mereda membuat data AS dan Tiongkok dalam tren bullish.

Beberapa sentimen global yang akan mempengaruhi laju rupiah akhir pekan ini, antara lain turunnya harga minyak mentah dunia. Minyak mentah jenis WTI dihargai US$ 64,97 per barel dan harga jenis Brent US$ 74,35 per barel. Ada pula sentimen dari pengumuman capaian produk domestik bruto Amerika besok atau pada Jumat waktu setempat.

(Baca: Jelang Keputusan Suku Bunga Acuan BI, Kurs Rupiah Melemah)

Isu global lainnya, harga minyak brent yang terus merangkak naik di atas US$ 74 per barel turut menekan mata uang rupiah. Kenaikan harga minyak tersebut didorong oleh desakan AS terhadap Iran sehingga terjadi pengetatan pasokan.

Bhima memprediksi rupiah akan semakin melemah dalam sepekan ke depan. "Rupiah berpotensi melemah ke 14.300 pada pekan depan," ujarnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Rizky Alika
Editor: Sorta Tobing

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...