Emi Nakamura, Bintang Baru Ekonom Perempuan yang Andalkan Data Set

Penulis: Hari Widowati

7/5/2019, 14.41 WIB

Penghargaan John Bates Clark merupakan penghargaan prestisius kedua setelah Nobel di bidang ilmu-ilmu ekonomi.

Dolar Amerika Serikat
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA
Ekonom UC Berkeley, Emi Nakamura, meraih John Bates Clark Medal 2019. Nakamura banyak melakukan riset mengenai dampak kebijakan moneter The Fed terhadap perekonomian AS.

Nama Emi Nakamura menjadi perhatian dunia ketika perempuan berusia 38 tahun ini diumumkan sebagai penerima penghargaan John Bates Clark Medal 2019 untuk Ekonom Terbaik Berusia di Bawah 40 Tahun di Amerika Serikat (AS). Penghargaan John Bates Clark merupakan penghargaan prestisius kedua setelah Nobel di bidang ilmu-ilmu ekonomi.

Ekonom University of California at Berkeley ini dinilai telah memberikan kontribusi yang paling signifikan terhadap pengetahuan dan pemikiran di bidang ekonomi. Ia adalah perempuan keempat yang menerima penghargaan tersebut sejak 1947.

Nakamura meraih gelar doktor di bidang makroekonomi dari Harvard University pada 2007. Desember lalu, The Economist juga menobatkannya sebagai salah satu dari delapan ekonom muda terbaik dekade ini. Sebelumnya, ia juga meraih penghargaan 2014 IMF Generation Next: Top 25 Economists under 45.

Emi Nakamura
Emi Nakamura (BERKELEY.EDU/GENEVIEVE SHIFFRAR)

 

Dalam wawancara dengan Berkeley News, Nakamura mengatakan, penelitiannya berusaha mengembangkan jenis-jenis data dan metode empirik yang digunakan dalam makroekonomi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan besar. Misalnya, apa yang menyebabkan resesi dan bagaimana mengukur dampaknya terhadap kebijakan fiskal dan moneter dalam perekonomian.

"Untuk alasan-alasan yang sudah jelas, kami tidak bisa melakukan eksperimen dalam makroekonomi, seperti menaikkan dan menurunkan suku bunga acuan untuk mengukur dampaknya terhadap perekonomian," ujar Nakamura.

Meski begitu, ada data mikro yang bisa dipelajari dari data statistik makroekonomi yang sering digunakan, seperti inflasi dan produk domestik bruto (PDB). Hal ini membuka kemungkinan digunakannya metode-metode yang sebelumnya tidak digunakan dalam makroekonomi.

(Baca: Sri Mulyani Dinobatkan Menkeu Terbaik se-Asia Pasifik Ketiga Kali)

Nakamura Menggunakan Data Set yang Sangat Detail

Ketua Departemen Ekonomi Universitas California (UC) Berkeley Alan Auerbach mengatakan, Nakamura menggunakan data set yang sangat detail. Ia mengamati secara lebih teliti dengan level agregasi yang rendah. Hal itu membutuhkan lebih banyak pekerjaan dibandingkan hanya mengambil data dari Biro Analisis Ekonomi.

Salah satu ide penting Nakamura di bidang ekonomi adalah menggunakan eksperimen natural untuk mempelajari dampak kebijakan ekonomi. Salah satu dari makalahnya yang paling berpengaruh menunjukkan dampak dari stimulus fiskal terhadap penambahan dan penarikan personil militer AS di beberapa negara bagian.

Ia menemukan bahwa tambahan belanja sebesar US$ 1 dapat meningkatkan output hingga US$ 1,5. American Economic Association menyebut makalah Nakamura tersebut merupakan contoh yang sangat baik dari pekerjaan yang mengombinasikan pekerjaan non-struktural empirik dengan model analisis yang berhati-hati. 

Wakil Dekan Fakultas Ekonomi UC Berkeley, Benjamin Hermalin mengatakan, penelitian Nakamura mengenai penetapan harga memiliki dampak yang besar terhadap pemahaman dalam studi infleksibilitas harga dalam jangka pendek dan konsekuensinya terhadap perekonomian. Hasil kerjanya yang lain mengenai kebijakan moneter sangat penting untuk memahami peran bank sentral dalam perekonomian.

"Analisis Nakamura lainnya mengenai kebijakan fiskal menjadi analisis yang paling meyakinkan saat ini mengenai dampak kebijakan fiskal terhadap perekonomian," kata Hermalin seperti dikutip Berkeley News.

(Baca: Ingin Dorong Ekonomi, Trump Tekan Bank Sentral AS Pangkas Suku Bunga)

Meriset Dampak Kebijakan Moneter The Fed

Sebagian besar riset Nakamura adalah riset tentang dampak kebijakan moneter terhadap perekonomian. Salah satu studinya yang paling banyak dikutip adalah soal rigiditas harga. Harga seringkali tidak berubah untuk jangka waktu yang lama. "Banyak ekonom makro berpikir hal ini adalah inti yang menyebabkan kebijakan moneter berdampak pada perekonomian," kata Nakamura.

Belum lama ini dia menyusun data baru mengenai perilaku harga sejak era inflasi dobel digit pada 1970-an untuk meneliti bagaimana penyesuaian harga di era tersebut berbeda dengan kondisi saat ini. Ia menemukan bahwa harga menjadi lebih responsif ketika inflasi naik.

Nakamura juga melihat data per menit untuk meneliti dampak kebijakan moneter. "Untuk melihat lebih dekat apa yang persisnya terjadi pada saat The Fed mengumumkan kebijakannya memungkinkan kita mengisolasi efek dari pengumuman The Fed terhadap kekuatan ekonomi yang membuat The Fed harus menurunkan suku bunga acuan," ujarnya. Ia juga menemukan bahwa The Fed memengaruhi perekonomian melalui saluran konvensional maupun non-konvensional sehingga masyarakat menjadi kurang optimistis terhadap kondisi ekonomi.

Nakamura menyatakan, sebagian besar risetnya dikerjakan bersama suaminya Jon Steinsson yang juga dosen senior Fakultas Ekonomi UC Berkeley. Steinsson berusia 42 tahun sehingga ia tidak masuk dalam kategori penghargaan John Bates Clark Medal.

"Saya dan Jon merayakan penghargaan ini sebagai penghargaan atas hasil riset kami," ujar Nakamura. Emi Nakamura menjadi orang ketiga di Fakultas Ekonomi UC Berkeley yang menerima penghargaan tersebut setelah David Card (1995) dan Emmanuel Saez (2009).

(Baca: Pemuda 24 Tahun Sukses Pimpin Startup Bernilai Rp 75 Triliun)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha