Pertebal Untung, Bass Oil Gandakan Produksi Lapangan Tangai Sukananti

Penulis: Martha Ruth Thertina

13/5/2019, 15.14 WIB

Bass Oil juga dilaporkan tengah mencari peluang akuisisi lapangan minyak onshore dekat infrastruktur produksi Lapangan Tangai Sukananti.

Bass oil gandakan produksi lapangan tangai sukananti
Chevron
Bass Oil membuka tender penyediaan rig untuk pengeboran Sumur Bunian 5.

Perusahaan eksplorasi dan produksi minyak yang berbasis di Australia, Bass Oil, fokus menggenjot produksi di Indonesia di tengah kenaikan harga minyak. Perusahaan menargetkan kapasitas produksi penuh di Lapangan Tangai Sukananti, Sumatera Selatan, dengan menyegerakan pengeboran Sumur Bunian 5.

Mengutip proactiveinvertors.com, Bass Oil telah membuka tender penyediaan rig berkapasitas 750 tenaga kuda untuk pengeboran Sumur Bunian 5. Langkah ini bertujuan untuk menggandakan produksi di Lapangan Tangai Sukananti sehingga kapasitas produksi tersisa di fasilitas lapangan tersebut terpakai penuh.

Lapangan Tangai Sukananti dikelola oleh perusahaan patungan, dengan Bass Oil bertindak sebagai operator dengan kepemilikan saham 55%. Pada April lalu, total produksi bulanan yaitu sebesar 20.237 barrel minyak, dengan bagian bersih untuk Bass Oil 11.150 barel.

(Baca: Kementerian ESDM Optimistis 11 Proyek Topang Lifting Migas Tahun Ini)

Sedangkan total penjualan sebesar 20.334 barel, atau 11.184 barel untuk Bass Oil. Produksi dan penjualan minyak sedikit turun dibandingkan Maret. Ketika itu, produksi mencapai 22.957 barrel, atau 12.626 barel untuk Bass Oil.

Meski begitu, pencapaian ini dinilai baik di tengah penutupan sumur Bunian I dan Tangai I karena kegagalan pompa downhole. Lapangan ini pun dilaporkan terus memberikan kontribusi positif bagi Bass. Ini tercermin dari selisih antara biaya operasi Lapangan Tangai Sukananti dan rata-rata harga minyak.

(Baca: Lifting Migas Belum Capai Target, Pertamina Diminta Percepat Investasi)

Biaya operasi lapangan tersebut sebesar US$ 25 per barel atau bahkan di bawahnya, sedangkan harga rata-rata minyak US$ 62,49 per barel pada Maret, dan naik menjadi US$ 67,39 per barel pada April. Ini artinya selisih kasarnya yaitu US$ 37,49 pada Maret dan 42,39 per April. Meskipun, selisih ini bisa jadi belum memasukkan biaya lainnya.

Untuk mengoptimalkan pendapatan dari lapangan di Indonesia, Bass Oil juga dilaporkan tengah mencari peluang akuisisi lapangan minyak onshore dekat infrastruktur produksinya di Lapangan Tangai Sukananti.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan