Kementan Dorong Mekanisasi Pertanian untuk Tarik Minat Petani Muda

Penulis: Rizky Alika

Editor: Agung Jatmiko

21/5/2019, 17.40 WIB

Mekanisasi pada alat dan mesin pertanian tak hanya untuk menarik minat generasi baru terjun ke pertanian, namun juga untuk menekan biaya produksi.

mekanisasi alat pertanian, dalat dan mesin pertanian, Kementerian Pertanian
ANTARA FOTO/Aji Styawan
Menteri Pertanian Amran Sulaiman secara simbolis memanen padi varietas Ciherang menggunakan mesin 'combine harvester' di persawahan Desa Sari, Demak, Jawa Tengah, 23 Januari 2018.

Kementerian Pertanian (Kementan) akan semakin giat mendorong mekanisasi alat pertanian untuk mendorong minat anak muda terjun dalam bidang pertanian.

Hal ini diungkapkan oleh Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementan Sarwo Edhy, yang menyebut ada penyusutan jumlah petani muda, sehingga mekanisasi alat pertanian menjadi hal yang mendesak untuk dilakukan.

"Perlu dukungan mekanisasi pertanian, mengubah pola mindset petani dari tradisional ke modern," kata dia dalam Konferensi Pers di kantornya, Jakarta, Selasa (21/5).

Sarwo berpendapat, penyusutan jumlah tenaga kerja petani lantaran petani muda enggan kotor, becek dan panas-panasan. Terlebih lagi, upah buruh tani yang masih rendah juga menjadi alasan petani muda menurun.

Oleh karena itu, keberadaan alat dan mesin pertanian yang modern dipandang Kementan mampu menarik petani muda. Tak hanya menarik minat saja, alat mesin pertanian yang modern juga mampu menekan biaya produksi.

Sarwo mencontohkan, pengolahan tanah dengan cangkul membutuhkan tenaga kerja sebanyak 30-40 orang per hari dengan lama kerja 240-400 jam per hektar, dengan biaya mencapai Rp 2 juta-Rp 2,5 juta.

Namun, dengan mekanisasi menggunakan traktor, tenaga yang dibutuhkan hanya dua orang dengan waktu kerja 16 jam per hektar, dengan biaya hanya Rp 900.000 hingga Rp 1 juta.

(Baca: Terobosan Kementan Berhasil Tekan Inflasi Pangan Sejak 2015)

Contoh lainnya, penyiangan secara manual membutuhkan tenaga kerja sebanyak 15-20 orang dengan jumlah tenaga kerja 120 jam per hektar. Biaya yang dibutuhkan mencapai Rp 600.000. Sementara, dengan power weeder, jumlah tenaga kerja yang diperlukan hanya dua orang dengan jumlah kerja 15-27 jam per hektar, dengan biaya hanya Rp 400.000.

Sarwo menambahkan, mekanisasi alat dan mesin pertanian juga sudah memasuki tahap digitalisasi. Salah satu contohnya ialah traktor roda empat yang dapat dikendalikan dengan remote control.

Selama ini, pemerintah telah menyalurkan bantuan alat dan mesin pertanian sebanyak 350.000 unit. Bantuan ini terdiri dari traktor roda dua, traktor roda empat, pompa air, rice transplanter, cooper, cultivator, exavator, hand sprayer, implemen alat tanam jagung dan alat tanam jagung semi manual.

Pada 2015 lalu, alat dan mesin pertanian yang telah disalurkan sebanyak 54.083 unit, pada 2016 sebanyak 148.832 unit, serta 2017 sebanyak 82.560 unit. Kemudian pada 2018, alat dan mesin pertanian yang disalurkan mencapai 112.525 unit.

"Alat dan mesin pertanian ini sudah diberikan kepada kelompok tani/gabungan kelompok tani, UPJA, dan brigade alsintan," ujar Sarwo.

Selain itu, Kementan juga ia katakan gencar mengembangkan pertanian modern berbasis korporasi. Daerah yang menjadi contoh antara lain Tuban, Sukoharjo, Konawe Selatan, Barito Kuala, dan Ogan Komering Hilir.

(Baca: Jadi Jutawan Muda dengan Bertani)

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha