Pasca Rusuh Aksi 22 Mei, Faktor Global Dominan Menekan Kurs Rupiah

Penulis: Agatha Olivia Victoria

Editor: Agung Jatmiko

23/5/2019, 10.59 WIB

Faktor eksternal yang mempengaruhi nilai tukar rupiah antara lain sentimen perang dagang antara AS dengan Tiongkok dan soal rencana AS membatasi Hikvision.

nilai tukar rupiah, The Fed, dollar AS
Arief Kamaludin|KATADATA
Ilustrasi, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS

Nilai tukar rupiah masih melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (23/5). Mengutip Bloomberg, nilai tukar rupiah dibuka di level Rp 14.488 per dollar AS.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji mengungkapkan, kerusuhan yang terjadi pada Rabu (22/5) tidak ada hubungannya dengan pelemahan rupiah saat ini. Pasalnya, aparat keamanan sudah bertindak cepat dan menangani situasi secara efektif, sehingga tidak bisa dikaitkan antara kerusuhan yang sudah selesai dengan pelemahan rupiah hari ini.

Menurutnya, peran pemerintah dalam menjaga tingkat stabilitas politik berbuah kestabilan fundamental makroekonomi yang masih terjaga saat ini. "Penjagaan pemerintah pada demonstrasi pasca pengumuman KPU memberikan katalis positif pada peningkatan kepercayaan investor," ujar Nafan, Kamis (23/5).

Ia memandang, penyebab pelemahan rupiah lebih dipengaruhi faktor eksternal, yakni soal sentimen perang dagang antara AS dengan Tiongkok.

Selain itu, terdapat pula isu pemerintah AS yang tengah mempertimbangkan memberi batasan pada perusahaan pengawas video asal Tiongkok, Hikvision. Hal tersebut menjadi kekhawatiran global.

Nafan juga memandang sentimen Brexit masih memberi tekanan kepada mata uang emerging market, termasuk rupiah. Sebab, belum adanya kepastian soal keluarnya Inggris dari Uni Eropa membuat pelaku pasar lebih memilih memegang dollar AS, yang memang merupakan safe haven.

(Baca: Sri Mulyani Sebut Rupiah Melemah ke 14.500 per US$ karena Dua Faktor)

Meski begitu, masih ada harapan rupiah bisa keluar dari tekanan, karena dari dalam AS sendiri belum ada kebijakan moneter yang agresif.

Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell sendiri telah menyatakan bahwa The Fed akan mengambil kebijakan moneter yang sabar. Artinya, The Fed pun tidak terburu-buru menaikkan tingkat suku bunga.

Dari sisi teknikal, Nafan memprediksi pergerakan rupiah terhadap dollar AS akan relatif mixed. Hal ini ia simpulkan karena terlihat pola three advancing soldiers candlestick pattern pada pergerakan rupiah.

"Pola ini mengindikasikan adanya potensi bullish continuation bagi dolar AS, meskipun indikator RSI sudah berada di area overbought," kata Nafan.

Nafan memprediksi rupiah akan bergerak di rentang Rp Rp 14.470 hingga Rp 14.570 per dolar AS.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN