Bahlil Lahadalia, Mantan Penjaja Kue yang Menuju Kursi Menteri Jokowi

Penulis: Dwi Hadya Jayani

Editor: Hari Widowati

27/5/2019, 13.51 WIB

Bahlil adalah sosok yang ulet. Ia mengasah jiwa kewirausahaannya sejak kecil dengan menjajakan kue, jadi sopir angkot, hingga memiliki perusahaan sendiri.

Gubernur Lemhanas Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo (kiri) berjabat tangan dengan Ketua Umum BPP HIPMI Bahlil Lahadalia (kanan) usai pembukaan Diklatnas Lemhanas BPP HIPMI di Gedung Lemhanas, Jakarta, Senin (8/10).
ANTARA FOTO/Galih Pradipta
Gubernur Lemhanas Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo (kiri) berjabat tangan dengan Ketua Umum BPP HIPMI Bahlil Lahadalia (kanan) usai pembukaan Diklatnas Lemhanas BPP HIPMI di Gedung Lemhanas, Jakarta, Senin (8/10).

Kabar mengenai kocok ulang (reshuffle) anggota kabinet kembali muncul setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) menetapkan pasangan calon Joko Widodo-Ma'ruf Amin sebagai pemenang Pilpres 2019 dalam rapat pleno, Selasa (21/5). Nama Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), muncul sebagai salah satu calon menteri.

Hal itu terungkap dalam silaturahmi nasional dan buka puasa bersama HIPMI yang dihadiri Presiden Joko Widodo (Jokowi), di Hotel Ritz Carlton Jakarta Selatan, Minggu (26/5). Bagi Jokowi, ada beberapa kriteria orang yang akan mengisi kabinet. Satu di antaranya mereka yang mampu melaksanakan program-program pemerintah. “Ini yang paling penting. Memiliki kemampuan manajerial yang baik,” ujar Jokowi.

Ia pun menyebut Bahlil cocok menjadi satu di antara pembantunya. Ucapan Jokowi disambut sorak-sorai dan tepuk tangan dari para tamu yang hadir. Mereka sepakat Bahlil layak menjadi kandidat menteri. Dia juga dinilai memiliki karakter yang dapat mencairkan suasana.

Bahlil adalah sosok yang ulet. Pria kelahiran Banda, 7 Agustus 1976 ini sejak kecil sudah menunjukkan kemampuannya berwirausaha. Ayahnya adalah seorang kuli bangunan yang menerima upah Rp 7.500 per hari sedangkan ibunya seorang tukang cuci.

Anak kedua dari sembilan bersaudara ini sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) sudah tertarik mencari uang. Ia pun membantu mencari penghasilan tambahan dengan menjajakan kue-kue buatan mamanya. Dari hasil berjualan kue tersebut, Bahlil bisa membantu membayar uang sekolah adik-adiknya dan bertahan hidup meski serba kekurangan.

Ketika masuk sekolah menengah pertama (SMP), kondisi keuangan orang tuanya semakin sulit. Bahlil beralih menjadi kondektur angkot, berjualan ikan di pasar, dan menjadi sopir angkot. Ia juga pernah menjadi asisten operator ekskavator dan tinggal di hutan ketika musim liburan tiba.

Setelah lulus sekolah menengah atas (SMA), Bahlil muda memiliki keinginan yang kuat untuk kuliah. Teman-temannya sudah lebih dulu mendaftar ke perguruan tinggi tetapi dia tidak tahu harus kemana. Dengan bermodalkan ijazah, tiga baju, surat izin mengemudi (SIM), dan kantong kresek, berangkatlah Bahlil ke Jayapura. Orangtuanya hanya tahu ia bekerja, bukan kuliah. Perjalanan dilalui dengan naik Perintis dari Fakfak bersama dengan kambing, keledai, dan kayu.

(Baca: Jokowi Sebut Ketua Hipmi Cocok Menjadi Menteri)

Menjadi Kuli Angkut hingga Pernah Busung Lapar saat Kuliah

Bahlil yang ingin mengubah nasib ternyata menghadapi kenyataan pahit. Di Jayapura, tidak ada kampus yang bersedia menerimanya. Seorang teman yang menjadi ketua asrama menyarankan agar Bahlil mendaftar ke perguruan tinggi swasta.

Di dekat asrama, terdapat pasar yang jaraknya ke jalan raya kurang lebih 100 meter. Kondisi ini dimanfaatkan Bahlil untuk menjadi kuli angkut dengan upah Rp 200 sekali angkut. Selama kuliah, Bahlil pernah terjun menjadi aktivis gerakan reformasi 1997-1998. Akibat hal tersebut, pria yang menjadi ketua senat di kampusnya ini sempat mendekam di penjara.

Perkuliahannya juga tidak selalu berjalan mulus. Pada semester 6, Bahlil pernah menderita busung lapar. Ketika bisa membeli beras, ia memasak beras itu menjadi nasi dan bubur agar kenyang lebih lama. Jika beras habis, ia makan mangga yang jatuh di samping asrama. Setelah jatuh sakit, tekadnya untuk mengakhiri kemiskinan semakin kuat.

Sembari kuliah, Bahlil bekerja sebagai marketing asuransi. Bahlil juga pernah menjadi pegawai kontrak Sucofindo. Begitu selesai kuliah, ia dan temannya aktif membangun perusahaan, dimulai dari perusahaan konsultan keuangan dan teknologi informasi (TI). Peran Bahlil di perusahaan ini adalah menjadi direktur wilayah Papua.

Inilah kali pertama Bahlil merasa memiliki gaji yang besar, yaitu Rp 35 juta pada usia 25 tahun. Karyawannya mencapai 70 orang yag memiliki latar belakang pendidikan keuangan dan TI. Karyawan Bahlil juga berasal dari kampus-kampus bergengsi, yaitu alumni Universitas Gajah Mada (UGM) dan Jerman. Berkat kelihaiannya menjalankan perusahaan, dalam satu tahun Bahlil dapat memberikan keuntungan lebih dari Rp 10 miliar kepada perusahaan.

Tak lama kemudian, Bahlil memutuskan untuk mengundurkan diri karena ingin mencari suasana baru dan membangun perusahaan yang berbeda dari yang selama ini ia tekuni. Setelah resign, Bahlil diberi dividen sebesar Rp 600 juta yang kemudian digunakannya sebagai modal untuk membangun perusahaan perdagangan (trading) kayu.

Kini, pria lulusan Sekolah Tinggi Ekonomi Port Numbay, Jayapura itu telah merasakan hasil jerih payahnya. Perusahaan yang dirintisnya, PT Rifa Capital, menjadi induk dari sepuluh perusahaan.

(Baca: Ketua DPR Sebut Mantan Mendag dan Ketua Hipmi Sebagai Calon Menteri)

Berperan dalam Pemenangan Jokowi-Maruf

Sinyal yang diberikan Jokowi untuk menarik Bahlil ke kabinet tak lepas dari perannya di Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf. Dalam Sidang Dewan Pleno II dan Rapimnas Hipmi 2018, ia gencar mengajak anggota Hipmi untuk memilih Jokowi-Maruf.

Bahlil lebih memilih mendukung Jokowi daripada Sandiaga Uno, padahal Sandi merupakan ketua umum HIPMI periode 2005-2008. Saat ditanya alasan Bahlil memilih mendukung Jokowi daripada mendukung Sandi, ia hanya menanggapinya dengan bercanda. “Bang Sandi itu pernah HIPMI, dia mantan ketua umum. Tetapi harus diingat, Pak Jokowi itu juga kader HIPMI Solo. Jadi, dua-duanya ini kader HIPMI," kata Bahlil di Posko Cemara, Kamis (29/11).

Ia juga ingin mendukung kader Hipmi yang ingin menjadi calon presiden (capres). “Kader HIPMI enggak mau wapres, capres dong. Kita sudah ada nomor satu, kok malah (memilih) nomor dua,” candanya.

(Baca : Dua Pengusaha Muda Perkuat Tim Kampanye Jokowi-Ma'ruf Amin)

Reporter: Dwi Hadya Jayani

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha