Incar 70% Pasar Bantuan Pangan Non-Tunai, Bulog Genjot Kualitas Produk

Penulis: Rizky Alika

Editor: Ekarina

15/6/2019, 01.38 WIB

Bulog menyebut pihaknya memiliki kompetensi di industri perberasan sehingga perseroan optimistis meraih pasar BPNT lebih dari 70%.

Perum Bulog, Bantuan Pangan Non-Tunai, BPNT
ARIEF KAMALUDIN | KATADATA
Ilustrasi, beras Bulog

Perum Bulog mempersiapkan strategi untuk mencapai target 70% pasar Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT). Hal Ini  salah satunya dilakukan dengan menyediakan produk pangan berkualitas dan terjangkau khususnya beras, baik berkualitas medium maupun premium.

"Bulog punya kompetensi sehingga kami yakin mampu meraih pasar BPNT lebih dari 70%", kata Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Bulog Tri Wahyudi dalam siaran pers yang diterima katadata.co.id, Jumat (14/6).

Kemampuan tersebut menurutnya tercermin dari pengalaman di industri perberasan, distribusi dan kemampuan infrastruktur. Dia juga menyebut, saat ini Bulog memiliki kapasitas penyediaan beras untuk 15,6 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) di seluruh Indonesia.

(Baca: Gudang Penuh, Bulog Minta Pemerintah Kembalikan BPNT ke Rastra)

"Bulog menjamin ketersediaan beras baik di wilayah perkotaan maupun pelosok yang sulit diakses oleh transportasi biasa dan sinyal operator," katanya.

Perusahaan pelat merah ini tercatat memiliki 37 mesin pengolahan yang tersebar di wilayah serapan gabah/beras seluruh Indonesia dan bersinergi dengan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dan pihak swasta dalam penyediaan kebutuhan beras untuk stok cadangan beras pemerintah (CBP) dan komersial.

Serapan Beras Petani

Sepanjang semester I 2019, Bulog tercatat menyerap gabah/beras petani sebanyak 650 ribu ton sesuai dengan HPP dalam Inpres no 5/2015 dengan fleksibilitas 10%.

Karenanya, perusahaan mengklaim tidak sulit untuk memenuhi kebutuhan beras BPNT untuk 15,6 juta KPM sebanyak 1,5 juta ton, dengan asumsi 1 KPM menerima 10 kilogram beras.

Sebab, Bulog akan menyerap gabah/beras petani di atas HPP dengan mekanisme komersial. "Petani akan diuntungkan dengan konsep pembelian hasil panen menggunakan mekanisme komersial," ujarnya.

Selain itu,  penyediaan beras untuk BPNT nmenurutnya akan memberikan efek berganda (multiplier effect). Petani akan bergairah menanam karena ada kepastian pembelian hasil panen dengan harga di atas HPP.

(Baca: Bulog Klaim Kinerja Lebih Efektif kalau Beli Beras di Atas Harga Acuan)

Agen BPNT (agen himbara dan E-Warong) juga akan menerima beras yang berkualitas dan terjangkau harganya sehingga menguntungkan. Tak hanya itu, agen BPNT yang terdapat di desa akan tumbuh dan berkembang sehingga akan berdampak kepada perekonomian desa.

Dengan adanya jaminan Bulog sebagai penyedia beras BPNT, ada keseimbangan dalam penugasan Bulog untuk menjaga ketahanan pangan di sisi hulu dan hilir. Di sisi hulu, bulog dapat menyerap gabah/beras petani sebanyak-banyaknya untuk stok CBP maupun untuk BPNT. 

(Baca: Pemerintah Kaji Peningkatan HPP Gabah, Harga Beras Berpotensi Naik)

Di sisi hilir, beras hasil penyerapan dari petani disalurkan untuk KPM BPNT sehingga stok yang menumpuk akan berkurang. Menurutnya, keberhasilan menjaga ketahanan pangan akan tercipta bila dilakukan secara bersama dengan dukungan seluruh pihak. Kerja sama diperlukan dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, dinas terkait, satgas pangan dan para pelaku pasar.

"Dengan seimbangnya penugasan Bulog, negara mampu menjaga 3 pilar ketahanan pangan Nasional yakni Pilar Ketersediaan, Keterjangkauan, dan Stabilisasi", ujar Tri Wahyudi.

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan