Adaro Uji Coba Bisnis Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Papua

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Pingit Aria

27/6/2019, 21.58 WIB

Jika berhasil dikembangkan, pembangkit listrik tersebut dapat menerangi hingga 15 desa.

PLTS Karimun Jawa
Azaria Laras | KATADATA

Anak usaha PT Adaro Energy yang bergerak di sektor kelistrikan yaitu PT Adaro Power melakukan uji coba bisnis Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Papua. Uji coba ini akan dilakukan antara 6-12 bulan terhitung sejak Juni 2019.

Wakil Presiden Direktur Adaro Power & Adaro Water Dharma Djojonegoro menjelaskan, apabila uji coba ini berhasil, maka proyek tersebut akan dikembangkan lebih lanjut. "Kami ingin uji coba dulu, dari segi legal maupun komersial. Kami akan pelajari," ujarnya kepada awak media, saat ditemui di Jakarta, Kamis (27/6).

Dharma menjelaskan pembangkit tenaga surya tersebut rencananya akan memiliki kapasitas listrik sebesar 50-100 kilo watt per peak (kWp), atau bisa menerangi rumah dengan jumlah 300-500 Kepala Keluarga (KK), di 10-15 desa.

(Baca: Bos Adaro Komentari Film Sexy Killers hingga Kebutuhan Batu Bara)

Menurutnya, dana investasi yang telah dikeluarkan hingga saat ini sekitar US$ 3-5 juta. Untuk membangun proyek ini Adaro Power bekerja sama dengan perusahaan asal Hongkong, dan didukung oleh pemerintah daerah (pemda) setempat. "Tahun depan sudah bisa dilihat hasilnya. Kalau berhasil nanti akan dikembangkan untuk 10-20 ribu KK," kata dia.

Menurutnya proyek ini dapat menggantikan genset yang dipakai di daerah terpencil yang belum mendapatkan aliran listrik dari PT Perusahaan Listrik Negara (PLN)(Persero). Jika dibandingkan, biaya yang dikeluarkan dari genset sekitar 30 sen per kilo watt hour (kWh), sedangkan untuk PLTS membutuhkan sekitar 50 sen per kWp.

Dharma menyatakan, mengembangkan pembangkit listrik energi terbarukan merupakan komitmen dari perusahaan untuk menyuplai listrik di daerah terpencil yang belum terjangkau PLN.

(Baca: Hampir Rampung, Adaro Uji Coba Operasi PLTU Tanjung )

Adapun saat ini 20% laba sebelum bunga, pajak, penyusutan, dan depresiasi (EBITDA) perusahaan disumbangkan oleh bisnis pertambangan. Ke depannya diharapkan empat pilar bisnis Adaro Energy yaitu pertambangan, logistik, listrik, dan jasa menyumbang EBITDA dengan jumlah yang sama rata.

Dharma juga menjelaskan bahwa demi mendukung energi baru terbarukan (EBT), pihaknya turut aktif mengikuti lelang pembangkit EBT yang diadakan oleh PLN. Sebelumnya, Adaro telah mengikuti lelang Pembagkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Sumatera, dan telah lolos tahap prakualifikasi.

Reporter: Fariha Sulmaihati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha