Pemangkasan Pasokan Berlanjut, Harga Minyak Naik Lebih dari US$ 1

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Happy Fajrian

1/7/2019, 15.11 WIB

Negara-negara OPEC dan produsen minyak dunia lainnya sepakat untuk memperpanjang kebijakan pemangkasan produksi minyak selama sembilan bulan kedepan.

Opec kemungkinan akan perpanjang pemangkasan pasokan, harga minyak dunia naik
Chevron
Ilustrasi sumur minyak. Harga minyak mentah dunia merangsek naik lebih dari US$ 1 per barel setelah negara-negara OPEC sepakat untuk memperpanjang kebijakan pemangkasan pasokan minyak untuk menopang harga minyak.

Harga minyak dunia naik lebih dari US$ 1 per barel setelah negara produsen utama minyak dunia, yaitu Arab Saudi, Rusia, dan Irak mendukung perpanjangan pemangkasan pasokan untuk enam hingga sembilan bulan.

Mengutip dari Reuters Senin (7/1), harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman September naik US$ 1,57 atau 2,4% menjadi US$ 66,31 per barel dan sempat menyentuh level tertinggi harian pada US$ 66,44 per barel.

Sedangkan minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus naik US$ 1,36 atau 2,3% menjadi US$ 59,83 per barel, setelah sebelumnya mencapai US$ 60,10, tertinggi selama lebih dari lima pekan.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya berpeluang memperpanjang pengurangan pasokan minyak. Hal ini seiring kesepakatan yang sudah dibuat beberapa negara produsen utama minyak dunia untuk menopang harga minyak mentah.

(Baca: Harga Minyak Dunia Turun Tertekan Angka Ekonomi China)

OPEC, Rusia dan negara produsen minyak lainnya, atau OPEC +, bertemu pada Senin (1/7) dan Selasa (2/7) untuk membahas pengurangan pasokan minyak dunia. Grup ini telah mengurangi produksi minyak sejak 2017 untuk mencegah penurunan harga di tengah melemahnya ekonomi global dan melonjaknya produksi minyak oleh AS.

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan, bahwa dia telah setuju dengan Arab Saudi untuk memperpanjang pengurangan produksi 1,2 juta barel per hari (bph) selama enam hingga sembilan bulan ke depan. Hal senada juga disampaikan Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih.

(Baca: Perang Dagang Berisiko Tekan Harga Minyak, Batu Bara, dan Metal)

"Meskipun ini perlu diratifikasi oleh anggota yang tersisa dari kelompok OPEC +, ini tampaknya menjadi fait accompli," kata analis ANZ dalam sebuah catatan.

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan