Rampung 98%, Smelter Nikel Wanatiara Ditarget Beroperasi Desember 2019

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Martha Ruth Thertina

4/7/2019, 17.16 WIB

Smelter ini dimiliki secara patungan oleh Wanatiara dengan perusahaan asal Tiongkok. Nilai investasi US$ 600 juta.

smelter nikel wanatiara
Katadata
Ilustrasi bijih nikel

PT Wanatiara Persada menargetkan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) nikel miliknya bisa beroperasi pada Desember 2019. Progres pembangunan smelter yang terletak di Pulau Obi, Maluku Utara tersebut telah mencapai 98%.

Senior Advisor PT Wanatiara Persada Arif S. Tiammar menjelaskan ada empat fasilitas smelter di lokasi tersebut. Fasilitas pertama beroperasi pada 2016, sedangkan yang akan beroperasi tahun ini adalah tiga fasilitas sisanya. "Kapasitasnya 260 ribu ton feronikel, dengan kandungan nikel kira kira 15%," kata Arif di Jakarta, Kamis (4/7).

Smelter ini dimiliki secara patungan oleh Wanatiara dengan perusahaan asal Tiongkok. Wanatiara memegang porsi kepemilikan 40%, sedangkan perusahaan asal Tiongkok 60%. Nilai investasi untuk pembangunan smelter ini sebesar US$ 600 juta.

(Baca: Dua Dekade Operasional Smelter Tembaga Pertama Indonesia)

Arif menjelaskan, perusahaan sebetulnya mampu menjalankan sendiri smelter tersebut, namun perusahaan membutuhkan bantuan pendanaan. Dengan kerja sama tersebut, " Kami bisa mendapatkan pinjaman dengan bunga yang rendah yaitu 2%," kata dia.

Adapun masing-masing fasilitas smelter membutuhkan pasokan listrik 33 Megawatt (MW). Pasokan tersebut dipenuhi dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap berkapasitas 150 MW yang dimiliki Wanatiara.

Tahun ini, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan tiga smelter beroperasi, yaitu dua smelter nikel yang dimiliki oleh Wanatiara dan Aneka Tambang, serta smelter timbal milik Kapuas Prima Citra.

(Baca: Freeport Targetkan Konstruksi Smelter di Gresik Dimulai Tahun Depan)

Undang-Undang (UU) Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba) mewajibkan perusahaan pertambangan melakukan pemurnian untuk meningkatkan nilai tambah produk pertambangan.

Kementerian ESDM memberlakukan sanksi berupa pencabutan izin ekspor sementara bagi perusahaan yang progres pembangunan smelternya tidak sesuai harapan. Selain itu, ada aturan denda yang tengah disiapkan.

Targetnya, sebanyak 57 smelter beroperasi pada 2022, dari posisi per akhir 2018 yaitu sebanyak 27 smelter.

Progres Smelter 2018
Progres Smelter 2018 (Kementerian ESDM)

 

Reporter: Fariha Sulmaihati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan