Pembangunan Infrastruktur Pangkas 50% Biaya Distribusi Perkebunan

Penulis: Rizky Alika

Editor: Ekarina

16/7/2019, 14.24 WIB

Infrastruktur sekitar perkebunan yang ada saat ini belum memadai, sehingga distribusi hasil panen kerap terhambat.

Petani melakukan panen buah kelapa sawit di salah satu perkebunan di Riau.
Arief Kamaludin|KATADATA
Petani melakukan panen buah kelapa sawit di salah satu perkebunan di Riau.

Pengusaha perkebunan menyambut baik rencana Presiden Joko Widodo terkait pembangunan infrastruktur yang akan disambungkan dengan sentra produksi rakyat. Hal itu diharapkan bisa berdampak terhadap penurunan biaya logistik dan distribusi perkebunan hingga 50%.

Dewan Pengawas Gabungan Asosiasi Perkebunan Indonesia (Gaperindo) Gamal Nasir mengatakan, percepatan infrastruktur dapat menyebabkan biaya distribusi perkebunan lebih efisien. "Kalau sudah dibangun, biaya lebih efisien. Jalur distribusi panen merata dan  produksi pertanian lancar," kata dia kepada katadata.co.id, Senin (16/7).

Menurutnya, infrastruktur sekitar perkebunan yang ada saat ini belum memadai. Sehingga, distribusi hasil panen kerap terhambat lantaran minimnya sarana dan prasarana.

(Baca: Jokowi Ingin Menyambung Infrastruktur dengan Sentra Produksi Rakyat)

Meski pembangunan beberapa infrastruktur besar saat ini sudah mulai terbangun seperti  jalan tol, dermaga, dan lainnya,  pembangunan di sentra produksi rakyat masih perlu ditingkatkan, seperti akses jalan. Sebab bila terjadi hujan, distribusi komoditas berpotensi terhambat sehingga harga dapat melonjak tinggi.

"Jadi infrastruktur di sentra produksi tani dan sentra pabrikan belum selesai pembangunan infrastrukturnya," ujarnya.

Gamal pun menilai, daya saing komoditas dalam negeri dapat meningkat bila infrastruktur telah menjangkau seluruh wilayah sentra produksi, sehingga biaya produksi dapat semakin menurun. Dengan begitu, produk dalam negeri dapat semakin bersaing dengan Thailand dan Vietnam.

Ia juga berharap, pemerintah bisa memetakan pembangunan infrastruktur lantaran setiap sentra produksi memiliki topografi yang berbeda. "Ada kebun rakyat yang di pedalaman jauh, wilayah gunung-gunung sehingga sulit dijangkau," katanya.

(Baca: Pemerintah Bidik Peremajaan Kebun Karet hingga 700 Ribu Hektare)

Contohnya, sentra produksi komoditas pala berada di Maluku Utara, Maluku, Aceh, Sulawesi Utara, Papua Barat, Sulawesi Tengah, dan Jawa Barat. Kemudian, sentra produksi lada berada di Bangka, Lampung, dan Kalimantan Barat. Selain itu, ada pula sentra produksi cengkeh berada di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, dan Jawa Timur.

Sebelumnya, Presiden Terpilih 2019-2024 Joko Widodo (Jokowi) dalam pidato Visi Indonesia menyatakan akan melanjutkan pembangunan infrastruktur pada periode kepemimpinannya yang kedua. Hal tersebut dilakukan untuk  mengantisipasi perkembangan situasi global yang semakin dinamis serta meningkatnya persaingan.

"Pembangunan infrastruktur akan terus kita lanjutkan. Infrastruktur yang besar-besar sudah dibangun, ke depan akan kita lanjutkan dengan lebih cepat dan menyambungkan infrastruktur seperti jalan tol, kereta api, pelabuhan, dan bandara dengan kawasan produksi rakyat," katanya.

Mantan Gubernur DKI Jakarta itu bermimpi dalam lima tahun ke depan, seluruh infrastruktur yang dibangun akan tersambung dengan kawasan persawahan, perkebunan, hingga tambak perikanan rakyat.

Tidak hanya itu, Jokowi juga berencana untuk menyambungkan infrastruktur yang telah dibangun dengan kawasan industri kecil, kawasan ekonomi khusus, dan kawasan pariwisata. "Arahnya ke sana, fokusnya harus ke sana," ujarnya.

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN