Danau Toba yang Belum Selesai Bersolek

Penulis: Michael Reily

Editor: Hari Widowati

20/7/2019, 08.15 WIB

Di dekat Bandara Sibisa, Toba Samosir akan dibangun kawasan resor terintegrasi layaknya Nusa Dua di Bali di atas lahan seluas 400 ha.

Suasana di pinggir Pantai Parbaba, pantai berpasir putih yang ada di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara.
KATADATA/MICHAEL REILY
Suasana saat matahari terbenam di pinggir Pantai Parbaba, pantai berpasir putih yang ada di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara.

Ayah dan anak itu memegang kamera digital, namun mereka tak mengarahkan kameranya ke arah pemandangan Danau Toba yang terhampar indah. Alih-alih, mereka menawarkan jasa foto langsung cetak kepada wisatawan. Harga satu lembar cetak foto ukuran 6R seharga Rp 20 ribu.

Tebing luas Panatapan Huta Ginjang, 1.555 meter di atas permukaan laut, ibarat sebuah studio foto bagi Patar Siregar (39) dan anaknya Franky Siregar (11). Apalagi, kunjungan Presiden Joko Widodo pada akhir 2017 membuat Panatapan Huta Ginjang semakin menarik bagi pelancong.

Huta Ginjang terletak di Kecamatan Muara, Kabupaten Tapanuli Utara. Sebagai salah satu titik paling baik untuk mengagumi keindahan Danau Toba, wisatawan hanya butuh waktu sekitar 15 menit dari Bandara Silangit, Kecamatan Siborong-borong, Kabupaten Tapanuli Utara.

Dulunya, Patar bekerja sebagai petani. Namun, pekerjaan di ladang yang hasilnya musiman membuat dia menimbang profesi lain untuk keberlanjutan keluarga. “Setelah Presiden datang, tempat ini semakin ramai jadi saya memilih foto sebagai pekerjaan,” katanya kepada wartawan Katadata.co.id saat mengunjungi tempat tersebut akhir Juni lalu.

Patar mengungkapkan satu fotografer bisa mencetak lebih dari sepuluh lembar foto ketika akhir pekan. Penghasilannya cukup untuk menghidupi keluarga kecil selama satu minggu. Cukup melegakan, sebab dia mengaku sering sepi pengunjung pada hari kerja.

Selain titik untuk foto, daya tarik lain Huta Ginjang adalah Bukit Doa Taber yang punya patung berbentuk tangan yang mengatup untuk melambangkan permintaan kepada Tuhan. Ada juga orang yang menyediakan jasa olahraga paralayang, tetapi hanya ketika ramai pengunjung.

Pengelolaan Huta Ginjang memang masih sederhana. Tenda-tenda warung membuat penampilan obyek wisata itu tak apik. Apalagi, tempat parkir yang tak teratur bakal semrawut ketika ramai. Untungnya, akses jalan menuju Huta Ginjang sudah baik dan petunjuk jalannya jelas.

Pemandangan indah Danau Toba bisa pengunjung rasakan juga di Taman Sipinsur, Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang Hasudutan, setinggi 1.213 meter di atas permukaan laut. Lanskap hutan pinus yang ada di taman biasanya digunakan wisatawan untuk berkemah.

Sayangnya, pengelolaan Taman Sipinsur tak jauh berbeda daripada Huta Ginjang. Masyarakat sekitar melakukan tata kelola dengan dukungan kepemilikan Pemerintah Daerah. Alhasil, tidak ada marka jalan penunjuk lokasi di taman. Tidak ada orang yang mengatur serta memberikan arahan dalam taman.

 

Akses jalan berliku menyusuri pesisir selatan Danau Toba memang sudah bagus, tetapi topografi bukit membuat sinyal jaringan telekomunikasi kadang hilang. Padahal, pengunjung pasti ingin membagikan foto pemandangan Danau Toba lewat media sosial. Selain Huta Ginjang dan Taman Sipinsur, lokasi favorit untuk foto adalah Menara Tele.

Menara Pandang Tele, Kecamatan Harian, Kabupaten Samosir adalah salah satu titik spektakuler untuk menangkap pemandangan menakjubkan Danau Toba. Sebagai Kawasan tertinggi di pesisir Danau Toba, Menara Tele sudah terkenal sejak 1988.

Edsus Pariwisata_Danau Toba
Pemandangan Danau Toba dilihat dari Menara Tele. (Michael Reily|KATADATA)

Abdul Sitanggar (40) yang bertugas menjaga karcis masuk Menara Tele mengungkapkan minimal kedatangan pengunjung dalam satu hari sebanyak 50 orang. Catatan kunjungan terbanyak yang pernah dia hitung sebanyak 2 ribu orang. Untuk mengunjungi Menara Tele, butuh Rp 7 ribu untuk retribusi.

Dia mengungkapkan, dalam sehari pasti ada kunjungan wisatawan mancanegara. Komitmen pemerintah untuk promosi pariwisata juga menjadi faktor kunjungan yang stabil. “Dulu Menara Tele hanya persinggahan, sekarang sudah jadi destinasi,” ujar Abdul.

Tak jauh dari Menara Tele, masih banyak objek wisata yang menarik. Setidaknya ada empat titik atraksi, seperti Air Terjun Sampuran Efrata untuk lokasi kemah, Bukit Holbung yang mirip latar kartun Teletubbies, Pemandian Aek Rangat untuk kolam air panas, serta Pusat Informasi Kaldera Toba di lereng Pusuk Buhit.

(Baca: Pemerintah Cari Cara Bebaskan Lahan untuk 4 Kawasan Wisata Prioritas)

Fasilitas Transportasi dan Akomodasi

Akses sarana dan prasarana transportasi wisata ke Danau Toba sudah bagus, tetapi masih bisa ditingkatkan. Sejumlah infrastruktur penunjang transportasi tengah dibangun. Namun, fasilitas yang minim bisa jadi penghambat kedatangan turis.

Contohnya, Bandara Silangit tidak memiliki ruang tunggu yang besar bagi penumpang keberangkatan. Bahkan, untuk kedatangan, tempat tunggu bagasi dan ruang istirahat menjadi satu ruangan. Dari Silangit, angkutan umum dari dan ke Danau Toba bisa dibilang hampir nihil.

Pengunjung harus menyewa mobil rental yang tarif hariannya dipatok sebesar Rp 650 ribu, sudah termasuk sopir. Untuk menyeberangi Danau Toba dengan mobil, satu-satunya jalur darat penghubung Pulau Sumatera dan Pulau Samosir adalah Jembatan Tano Ponggol.

Sayangnya, ukuran Jembatan Tano Ponggol hanya sepanjang hanya 20 meter dan lebarnya hanya muat untuk dua mobil. Selain itu, kondisi kanal yang dangkal tidak memungkinkan kapal besar melewati jembatan. Pemerintah merenovasi jembatan agar panjangnya mencapai 200 meter dan punya ketinggian tungku hingga 90 meter.

Tak hanya jembatan, pelebaran Jalan Lingkar Luar Samosir juga dalam proses pembangunan. Jalan Lingkar Luar Samosir adalah jalan yang berada di pesisir Pulau Samosir. Kanan-kiri jalan adalah pemandangan yang unik, gabungan sawah dan hotel, tergantung bisnis pemilik tanah.

Berbeda dari jalur darat, penyeberangan laut punya banyak opsi. Contohnya, penyeberangan dari Pelabuhan Ajibata di Sumatera Utara menuju Pelabuhan Tomok di Samosir – atau sebaliknya – dalam waktu sekitar satu jam. Ada juga 9 trayek kapal penumpang umum lewat dermaga kecil lain di Sumatera Utara-Samosir.

Rute Ajibata-Tomok menggunakan Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Tao Toba I dan Tao Toba II yang bolak-balik sebanyak empat kali dalam sehari. Perusahaan swasta PT Gunung Hijau Megah yang menjadi pengelola membanderol tiket seharga Rp 115 ribu untuk mobil, Rp 10 ribu untuk individu, serta Rp 20 ribu untuk motor.

Tahun ini, PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) Indonesia Ferry resmi meluncurkan operasional satu unit KMP Ihan Batak lewat Pelabuhan Ambarita, tak jauh dari Pelabuhan Tomok. Namun, tarif kapal berukuran 300 Gross Tonnage (GT) itu sedikit lebih mahal daripada KMP Tao Toba I dan Tao Toba II.

Yang jelas, tujuan pemerintah untuk menambah opsi penyeberangan masih belum mampu memenuhi kebutuhan wisatawan untuk menyeberang lewat jalur laut. Antrean bus dan mobil masih membeludak ketika kendaraan dan penumpang masuk ke kapal. Bahkan, antrean kendaraan mengular sampai ke jalan raya di luar pelabuhan.

Edsus Pariwisata_Kapal Penyeberangan Danau Toba
Kapal Penyeberangan Danau Toba (ANTARA FOTO/SEPTIANDA PERDANA)

 

Apalagi, Kapal Motor (KM) Sinar Bangun rute Pelabuhan Simanindo di Samosir – Pelabuhan Tigaras di Sumatera Utara karam tahun lalu. “Soal kelebihan muatan, kami tidak bisa simpulkan langsung, tapi ada potensi kelebihan,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, 20 Juni 2018.

Transportasi di Pulau Samosir juga perlu perhatian khusus karena masih sangat minim. Hanya ada bus yang berkeliling pulau untuk mengangkut atau mengantar orang dari atau ke Sumatera Utara. Namun, pengunjung bakal kesulitan mencari kendaraan umum untuk mengunjungi obyek wisata.

Nangkok Tamba (39) melihat peningkatan pariwisata di Danau Toba sebagai kesempatan. Dia membangun sebuah komunitas angkutan umum bertitel Pariwisata Danau Toba (Paradat), kombinasi motor dan tempat angkutan yang muat untuk lima orang.

Untuk membangun satu unit Paradat butuh sekitar Rp 9,5 juta, tak termasuk biaya motor. Saat ini, komunitas Paradat sudah memiliki 30 unit kendaraan. Untuk perjalanan dekat, biaya transportasi hanya Rp 10 ribu per orang. Namun, mereka juga menawarkan paket wisata Rp 150 ribu untuk tiga lokasi.

Dalam paket wisata ini, Paradat akan mengantar dan menunggu wisatawan ke Desa Tomok, Panorama Pantai Tuk-Tuk, serta Batu Kursi. Meskipun lokasi wisata juga bisa berubah sesuai kemauan pelanggan. “Kami siap antar ke mana saja di Samosir, tetapi batas waktu hanya sampai pukul enam sore,” kata Nangkok.

Desa Wisata Ulos
Desa Wisata Ulos Lumban Suhi Suhi di Pulau Samosir. (Katadata/Michael Reily)

 

Banyak sekali obyek wisata menarik di pesisir Samosir. Selain tiga lokasi itu, Desa Lumban Suhi-Suhi sebagai desa asal pengrajin Ulos dari Samosir adalah tempat wajib kunjung. Pada pagi hari, para pengrajin bakal memamerkan keahlian tenun. Wisatawan domestik maupun mancanegara juga bisa membeli Ulos.

Setelah melihat Ulos di Desa Lumban Suhi-Suhi, Pantai Pasir Putih Parbaba juga menawarkan pemandangan Danau Toba yang indah. Di Sumatera Utara, matahari terbit dan tenggelam lebih lambat sekitar satu jam daripada Jakarta. Para pemburu foto punya waktu lebih banyak untuk persiapan.

Tak ada matahari berarti jalan bakal gelap gulita. Penyebabnya, fasilitas penerangan jalan di Pulau Samosir dan sekitar Danau Toba tak sepenuhnya tersedia. Pengemudi mobil dan motor pun harus ekstra waspada pada malam hari. Alhasil, aktivitas pun hanya ramai di sekitar kawasan penginapan.

(Baca: Tanpa Regenerasi, Desa Wisata Ulos Danau Toba Kekurangan Penenun)

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan