Ingin Kendalikan Cost Recovery, SKK Migas Manfaatkan Kontrak Bersama

Penulis: Verda Nano Setiawan

Editor: Ratna Iskana

7/8/2019, 21.05 WIB

Contoh pemanfaatan fasilitas dan jasa terintegrasi seperti di Lamongan Shorebase yang telah berhasil menghemat biaya Rp 120 miliar.

skk migas, cost recovery
Ajeng Dinar Ulfiana | KATADATA
Ilustrasi, logo Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). SKK Migas berusaha mengendalikan cost recovery.

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) terus berupaya mengendalikan biaya operasi/cost recovery. Kepala Divisi Program dan Komunikasi SKK Migas Wisnu Prabawa Taher menyatakan, salah satu cara pengendalian cost recovery adalah dengan pemanfaatan kontrak bersama antara kontraktor migas.

Contohnya, pemanfaatan fasilitas dan jasa Shorebase terintegrasi antara enam kontaktor yang berlokasi di Lamongan Shorebase telah berhasil menghemat biaya operasi sebesar Rp 120 miliar. "Dibandingkan apabila para kontraktor tetap menggunakan harga kontrak lama untuk periode lima tahun ke depan," kata Wisnu saat ditemui di Gedung Kementerian ESDM, Rabu malam (7/8).

Selain itu, kontrak bersama penyediaan transportasi udara yang melayani transportasi untuk personel dan kargo Jakarta-Matak-Jakarta antara tiga kontraktor yang memiliki operasi di wilayah kepulauan Matak mampu mendapatkan penghematan sebesar Rp 380 miliar selama periode lima tahun kedepan. "Ditambah penghematan yang didapat berdasarkan kontrak bersama pengadaan Jack up Rig oleh kontraktor yang berada di wilayah Ketapang dan North Madura sebesar US$ 15 juta selama jangka waktu tiga tahun ke depan," kata Wisnu.

(Baca: Inpex Bakal Dapat Pengembalian Dana Operasi Blok Masela Rp 22 Triliun)

Di sisi lain, Deputi Pengendalian Pengadaan SKK Migas Tunggal menyampaikan industri migas saat ini sangat mendorong upaya-upaya efisiensi oleh para pelaku migas mulai dari level regulator, pengawas, pengendali dan pelaksana. Sehingga dapat menciptakan kegiatan yang efektif dan efisien.

"Salah satu upaya pencapaian kegiatan yang efektif dan efisien tersebut yakni adanya sinergi dari para pemangku kepentingan melalui pengadaan bersama atau kontrak bersama ini untuk ikut berperan bersama dalam mendukung peningkatan produksi dan lifting migas nasional," ujar Tunggal.

Berdasarkan catatan SKK Migas, hingga semester I tahun 2019, perbaikan tata kelola waktu persetujuan baik rencana tender maupun hasil tender di SKK Migas rata-rata 6,19 hari kerja dari target 15 hari kerja. Sedangkan efisiensi dari usulan rencana tender diperoleh sebesar 10,82% dari total pengajuan anggaran kontraktor dan untuk hasil pelaksanaan tender mencatatkan hasil efisiensi sebesar 4,88% terhadap anggaran yang disetujui oleh SKK Migas.

SKK Migas menargetkan cost recovery tahun ini sebesar US$ 10,2 miliar. Sedangkan target tahun depan berkisar US$ 10-11 miliar. Hingga Mei 2019, cost recovery  sudah mencapai US$ 4,05 miliar.  

(Baca: SKK Migas Usul Cost Recovery Tahun 2020 Lebih Kecil, US$ 10-11 Miliar)

 

Reporter: Verda Nano Setiawan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN