Bisa Ekspor Ayam ke Indonesia, Ini Gambaran Industri Peternakan Brasil

Penulis: Pingit Aria

15/8/2019, 16.07 WIB

Data FAO, Brasil adalah salah satu eksportir daging ayam terbesar di dunia.

Kinerja perusahaan pakan ternak kuartal I 2018 berpotensi membaik seiring turunnya harga jual bahan baku jagung
ANTARA FOTO/Idhad Zakaria
Kinerja perusahaan pakan ternak kuartal I 2018 berpotensi membaik seiring turunnya harga jual bahan baku jagung

Masyarakat Brasil adalah pelahap daging sejati. Konsumsi daging ayam dan sapi per kapita di negeri samba adalah salah satu yang terbesar di dunia. Tak heran, industri peternakan di sana dikembangkan dengan begitu masif.

Begitu besarnya industri peternakan itu, Brasil tak hanya dapat mencukupi kebutuhan domestik melainkan juga dapat mengekspor daging sapi dan ayam dalam jumlah besar. Setelah kalah dalam sengketa di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Indonesia pun kini harus menerima daging impor dari Brasil.

(Baca: Kalah di WTO, Mendag Tak Punya Pilihan Menolak Impor Ayam Brasil)

"Tidak ada pilihan lain untuk kita menyesuaikan sesuai rekomendasi dari WTO," kata Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita usai rapat koordinasi di Kantor Kementerian Perekonomian di Jakarta, Rabu (8/8) lalu.

Lalu, bagaimana sebenarnya industri peternakan di Brasil?

Data Asosiasi Protein Hewani Brasil (ABPA), Konsumsi daging  ayam per kapita di Brasil mencapai 43,3 kilogram pada 2015. Bandingkan dengan di Indonesia yang baru mencapai 5,68 kilogram per kapita pada 2017.

Grafik:

Bagaimanapun, menurut data Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), Brasil bisa mengekspor sepertiga dari hasil ternak ayamnya ke 150 negara di dunia. Pada 2015, nilai ekspor daging ayam Brasil mencapai US$ 7,5 miliar. Angka itu naik 11,7% per tahun selama periode 1990-2015.

Brasil adalah salah satu eksportir daging ayam terbesar di dunia selain Amerika Serikat dan Tiongkok. Data FAO, Brasil menguasai hampir 40% dari pangsa pasar daging ayam dunia. “Artinya, dari 11 kilogram daging ayam di pasar dunia, sekitar 4 kilogram berasal dari Brasil,” demikian dikutip dari riset FAO yang berjudul Contract Farming in the Brazilian Chicken Industry.

(Baca: Peternakan Unggas Terancam, Asosiasi Tolak Impor Daging Ayam Brasil)

Usaha peternakan ayam di Brasil melibatkan 180 ribu peternak. Sektor ini juga melibatkan 3,5 juta pekerja secara langsung maupun tak langsung dan berkontribusi terhadap 1,5% dari produk domestik bruto (PDB) di sektor pertanian.

Kuatnya daya saing industri peternakan ayam di Brasil ditunjang oleh beberapa faktor, dari mekanisasi hingga efisiensi rantai pasok. Sekitar 75% peternakan ayam di Brasil dijalankan menurut sistem kontrak.

Salah satu pemain yang dominan adalah Pif Paf Alimentos. Berdiri sejak 1970, Pif Paf merupakan produsen pangan olahan terbesar di Brasil. Mempekerjakan sekitar 8000 orang, Pif Paf menghasilkan lebih dari 300 jenis produk olahan ayam, dari daging beku, sosis, nugget dan lainnya.

Untuk mendapat bahan baku, Pif Paf memiliki kontrak kemitraan dengan para peternak yang umumnya memelihara puluhan ribu hingga ratusan ribu ekor ayam.

Perusahaan akan memasok seluruh kebutuhan ternak, dari bibit ayam, pakan, hingga obat-obatan. Kemudian, ayam akan dikirim kembali ke fasilitas pengolahan perusahaan saat berumur 40 hari. Pada 2016, Pif Paf bisa memotong lebih dari 277 ribu ekor ayam per hari di dua sentra produksinya.

(Baca: Mengenal Berdikari, BUMN yang Impor Ribuan Ton Daging dari Brasil)

Lalu bagaimana dengan peternakan sapi? Sama seperti ayam, peternakan sapi Brasil juga dijalankan secara masif. Data WTO, nilai ekspor daging sapi Brasil pada 2016 melebihi US$ 12 miliar. Brasil menghasilkan 209 juta ekor sapi dari total 167 juta hektare peternakan. Industri ini menyerap sekitar 360 tenaga kerja.

Kini, Indonesia harus bersiap menghadapi masuknya impor daging ayam dan sapi dari Brasil. Selain membuat industri dalam negeri lebih bersaing, hal teknis seperti sertifikat sanitasi internasional atau label halal harus dipikirkan.

"Kami akan sesuaikan untuk itu, jadi tidak usah ada kekhawatiran, karena masih ada rangkaian yang lain," kata Menteri Enggar.

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan