KPU Sebut Serangan Siber dan Hoaks Semakin Meningkat di Pemilu 2019

Penulis: Fahmi Ramadhan

Editor: Ratna Iskana

20/8/2019, 13.50 WIB

Pada Pemilu 2019, serangan siber menyerbu situs dan sistem KPU, hingga akun-akun penyelenggara Pemilu. Ditambah penyebaran hoaks yang cukup masif.

kpu, hoaks, pemilu
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Ketua KPU Arief Budiman dan para komisioner berbincang dengan anggota Bawaslu Mochammad Afifuddin di sela Rapat Pleno Rekapitulasi Hasil Penghitungan dan Perolehan Suara Tingkat Nasional Dalam Negeri dan Penetapan Hasil Pemilu 2019 di kantor KPU, Jakarta, Rabu (15/5/2019). KPU mendapat serangan siber dan hoaks terutama di Pemilu 2019.

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Arif Budiman menyebut serangan siber dan berita bohong (hoaks) terus meningkat sejak Pemilihan Umum (Pemilu) 1999. Puncaknya terjadi pada Pemilu 2019.

Padahal KPU sudah meningkatkan penggunaan teknologi dalam penyelenggaraan Pemilu. Namun peningkatan penggunaan teknologi ternyata tak mampu meredam serangan siber dan sebaran hoaks.

"Saya ingat betul pada website KPU, nama-nama partai berubah menjadi nama nama buah, partai A pisang, partai B semangka,  seperti itu. Tapi tidak ada orang-orang mencaci maki, belum ada," kata Arif pada saat acara bertajuk, "Focus Group Discussion Hoax", di Gedung KPU, Jakarta, Selasa, (20/8).

Pada Pemilu 2009, serangan siber tidak hanya sekedar menyerang tampilan website hingga sistem KPU. Sehingga KPU tidak bisa mengirim data hasil Pemilu. Pada Pemilu 2014, serangan siber tidak hanya menyerbu institusi KPU, tapi menyerang akun pribadi para anggota KPU.

"Jadi email anggota KPU diserang, email saya diserang. Diperbaiki, diserang lagi. Akun media sosial yang penggunaanya belum meningkat cepat seperti tahun 2019 saja saat itu sudah mulai diserang," ujarnya.

Klimaksnya pada Pemilu 2019, serangan siber menyebar tidak hanya di situs dan sistem KPU, tapi menyerang hingga akun-akun penyelenggara Pemilu. Ditambah penyebaran hoaks yang sangat masif.

"Sekaligus mohon maaf, istilahnya saling menyerang antar peserta Pemilu pun meningkat. Jadi spektrumnya lebih meluas, beragam, dan penyebarannya meningkat lebih cepat dari tahun-tahun sebelumnya," ungkapnya.

(Baca: Peretas Incar Indonesia, 25 Juta Ponsel Terinfeksi Malware)

Reporter: Fahmi Ramadhan

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN