Aprindo Beri Saran Peretail Agar Tak Bangkrut seperti Forever 21

Penulis: Rizky Alika

Editor: Agustiyanti

3/9/2019, 14.42 WIB

Aprindo menyebut peritel harus mengikuti perubahan zaman dan perilaku konsumen agar tak mengalami nasib serupa Forever 21 yang tengah terancam bangkrut.

ritel
ANTARA FOTO/APRILLIO AKBAR
Ilustrasi. Aprindo menyebut peritel harus mengikuti perubahan zaman dan perilaku konsumen agar tak mengalami nasib serupa Forever 21 yang tengah terancam bangkrut.

Nasib malang tak hanya menimpa sejumlah industri retail di Tanah Air yang terpaksa  menutup lapaknya akibat tak mampu bersaing. Sejumlah peretail global juga mengalami hal yang sama, salah satunya Forever 21 Inc yang dikabarkan tengah terancam bangkrut.

Selain Forever 21 Inc, sebelumnya juga ada nama-nama peretail besar yang mengalami kesulitan, seperti Payless, Victoria's Secret, GAP, dan Toy R Us. Sementara di Tanah Air, terdapat beberapa peretail yang menutup sebagian maupun seluruh tokonya, seperti Debenhams, Lotus, Ramayana, Hero, dan Giant.

"Ini jadi pelajaran (Forever 21) untuk senantiasa mengikuti perubahan, baik zaman atau perilaku konsumen," kata Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Nicholas Mandey kepada katadata.co.id, Senin (3/9).

(Baca: Terlilit Utang, Forever 21 Mengajukan Status Bangkrut)

Menurutnya, penjualan ritel dapat tidak memenuhi harapan bila tidak mengikuti perubahan. Akibatnya, biaya produksi lebih besar dari penjualan sehingga ritel merugi.

"Jadinya tidak ada transaksi," ujar dia. 

Mengutip Bloomberg, Forever 21 kini tengah mengajukan status bangkrut lantaran mengalami kekurangan kas dan tak dapat mengajukan pinjaman baru. Sumber Bloomberg  yang mengetahui rencana itu menjelaskan perusahaan telah melakukan pembicaraan dengan peminjam untuk menambah pinjaman dan bekerja dengan tim penasehat guna membantu melakukan restrukturisasi utang. Namun, negosiasi dengan pemberi pinjaman sejauh ini gagal.

(Baca: Kinerja Keuangan Hero dan Retail Grup Lippo Jeblok di Semester I 2019 )

Dengan demikian, menurut sumber tersebut, fokus perusahaan telah bergeser kini untuk memastikan debitur yang memiliki pinjaman membawa perusahaan ke jalur hukum. Perwakilan Forever 21 sejuah ini belum mananggapi permintaan untuk memberi konfirmasi.

Sumber yang tak mau disebutkan namanya ini menjelaskan pengajuan kebangkrutan yang dapat dilakukan oleh pemberi pinjaman akan membantu perusahaan menutup toko yang tak menguntungkan dan merekapitulasi bisnis. Namun, ini juga bisa menimbulkan masalah bagi mayoritas pemilik saham, Simon Property Group Inc. dan Brookfield Property Partners LP. Forever 21.

Reporter: Rizky Alika

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

Video Pilihan