Timah Bangun Fasilitas Produksi Mineral Tanah Jarang Rp 200 Miliar

Penulis: Ihya Ulum Aldin

Editor: Ekarina

4/9/2019, 18.52 WIB

Fasilitas oksidasi diperlukan untuk mendukung hasil penambangan tanah jarang.

PT Timah Tbk (TINS) berencana membangun fasilitas oksidasi untuk mendukung produksi mineral tanah jarang (rare earth).
Katadata | Arief Kamaludin
PT Timah Tbk (TINS) berencana membangun fasilitas oksidasi untuk mendukung produksi mineral tanah jarang (rare earth).

PT Timah Tbk (TINS) berencana membangun fasilitas oksidasi untuk mendukung produksi mineral tanah jarang (rare earth). Anggaran yang disiapkan untuk pembangunan tersebut  mencapai Rp 150 miliar hingga Rp 200 miliar. 

Sekretaris Perusahaan Timah Abdullah Umar mengatakan dana pembangunan fasilitas oksidasi akan berasal dari obligasi dan sukuk yang sebelumnya diterbitkan.

Dari aksi korporasi tersebut, perusahaan meraih dana total sebesar Rp 1,19 triliun. Yang mana dari obligasi diperoleh sekitar Rp 880 miliar dan sukuk Rp 313 miliar. 

Abdullah mengungkapkan, pembangunan proyek diperkirakan memakan waktu selama setahun. "Pembangunannya tahun ini, kira-kira di triwulan III 2019," ujarnya di Plaza Mandiri, Jakarta, Rabu (4/9).

(Baca: Timah Bangun Smelter Senilai Rp 1,14 Triliun di Bangka Belitung)

Menurutnya, fasilitas oksidasi diperlukan untuk mendukung hasil penambangan  tanah jarang. Perusahaan saat ini, masih berupaya menyelesaikan proses feasibility study (FS) untuk mineral tanah jarang, sambil menyiapkan rencana penambangan.

Harapannya, ketika penambangan sudah mulai berjalan, fasilitas oksidasi sudah lebih dulu dibangun sehingga siap digunakan. "Produksi fasilitas oksidasinya, kalau sudah mulai menambang, baru produksi," katanya.

(Baca: Inalum Kaji Potensi Logam Tanah Jarang di Indonesia)

PT Timah bersama Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) tengah mengkaji logam tanah jarang (rare earth), salah satunya terkait masalah keekonomian proyek. Karena, meski manfaat logam tanah jarang ini besar, secara persentase keberadaannya sangat kecil.

"Kami sedang melakukan studi kelayakan, berapa batasan jumlah tanah jarang akan bisa memenuhi aspek keekonomiannya," ujar Direktur Keuangan Timah Emil Emindra saat ditemui di Bursa Efek Indonesia (BEI), Selasa (27/8).

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN