Banjir Dana Asing, Imbal Hasil Surat Utang Negara Naik 10% di Agustus

Penulis: Fariha Sulmaihati

Editor: Ratna Iskana

9/9/2019, 21.44 WIB

Harga SUN naik karena Bank Indonesia menurunkan suku bunga dan didorong pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup baik.

Direktur Surat Utang Negara pada Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Resiko Kemenkeu Loto S. Ginting memperlihatkan informasi tentang Savings Bond Ritel (SBR) seri SBR005 ketika peluncuran di Jakarta, Kamis (10/1/2019). Pemerintah menerbitkan Surat Utang Ne
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Ilustrasi, aplikasi Surat Utang Negara (SUN).

Mandiri Sekuritas mencatat imbal hasil (return) Surat Utang Negara (SUN) naik sebesar 10% pada Agustus 2019. Sedangkan, pada periode yang sama tahun lalu terjadi minus return 5%.

Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menjelaskan penguatan beruntun (rally) pasar SUN disebabkan kebijakan Bank Indonesia (BI) yang menurunkan suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 7,2%. "Akibatnya harga obligasi naik, secara return itu bisa lebih tinggi daripada yield yang ditawarkan," ujar Handy di Jakarta, Senin (9/9).

Selain itu, asing cukup banyak membeli SUN. Hal tersebut didorong ketatnya likuditas dolar Amerika Serikat (AS) yang disebabkan Bank Sentral AS atau The Federal Reserve (The Fed) menaikan suku bunga bunga hingga 100 bps.

(Baca: Sasar Milenial, Pemerintah Berencana Terbitkan 10 SBN Ritel pada 2020)

Ditambah posisi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang cukup baik meski adanya perang dagang antara AS dan Tiongkok. Adapun dari Rp 256,2 triliun SUN, 50% atau sekitar Rp 118,9 triliun dibeli oleh asing.

Menurut Handy rally ini masih bisa berlanjut karena treasury yield AS masih turun, yakni sekitar 5,8%. "Jika dibandingka yield yang tinggi seperti Filpina, Rusia. Indonesia hanya turun 72 bps," kata dia.

Di sisi lain, adanya votalitas inflasi yang rendah mendukung investasi domestik.  Sehingga investor percaya diri untuk investasi lebih besar dalam jangka waktu yang panjang.

Menurutnya, saat ini defisit neraca transaksi berjalan (Current Account Defisit/ CAD), serta Produk Domestik Bruto (PDB) juga masih cukup baik. Ada pun pada Agustus 2019 inflasi tercatat sebesar 0,12%, CAD pada kuartal II 2019 nilainya sebesar US$ 8,4 miliar atau mencapai 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

(Baca: Surat Utang Kebanjiran Dana Asing, Modal Masuk Hingga Agustus Rp 181 T)

Reporter: Fariha Sulmaihati

Anda Belum Menyetujui Syarat & Ketentuan
Email sudah ada dalam sistem kami, silakan coba dengan email yang lainnya.
Alamat email Anda telah terdaftar
Terimakasih Anda Telah Subscribe Newsletter KATADATA
Maaf Telah terjadi kesalahan pada sistem kami. Silahkan coba beberapa saat lagi
Silahkan mengisi alamat email
Silahkan mengisi alamat email dengan benar
Masukkan kode pengaman dengan benar
Silahkan mengisi captcha

VIDEO PILIHAN